
Doa malam Lailatul Qadar yang diajarkan Rasulullah kepada Sayyidah Aisyah adalah Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni, yang berarti "Ya Allah, sungguh Engkau Maha Pemaaf dan menyukai maaf, maka maafkanlah aku". Doa ini dianjurkan diperbanyak sepanjang Ramadhan, terlebih pada sepuluh malam terakhir ketika Lailatul Qadar dinanti-nanti. NU Online mencatat dua redaksi doa yang sama-sama bersandar pada hadits kuat dari Aisyah, satu dengan tambahan kata karim dan satu tanpanya. Artikel ini menyajikan kedua bacaan lengkap dengan Arab, latin, dan artinya, sumber haditsnya, kapan doa ini dibaca, serta rambu penting bahwa waktu pasti Lailatul Qadar tetap rahasia Allah.
Bacaan Doa Malam Lailatul Qadar
Berdasarkan himpunan NU Online, ada dua redaksi doa malam Lailatul Qadar yang biasa diamalkan masyarakat di masjid-masjid di Indonesia. Keduanya berasal dari dua riwayat hadits Sayyidah Aisyah dan bisa diamalkan karena sama-sama bersandar pada hadits yang kuat.
Redaksi pertama, berdasarkan riwayat Imam At-Tirmidzi, memakai kata karim setelah 'afuwwun:
اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ اَلْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Latin: Allahumma innaka 'afuwwun kariimun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni ('anna jika dibaca berjamaah).
Artinya: "Ya Allah, sungguh Engkau Maha Pemaaf yang Maha Pemurah. Engkau juga menyukai maaf. Oleh karena itu, maafkanlah aku (maafkanlah kami)."
Redaksi kedua, berdasarkan riwayat lima imam hadits kecuali Imam Abu Dawud, tanpa kata karim:
اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ اَلْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Latin: Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni ('anna jika dibaca berjamaah).
Artinya: "Ya Allah, sungguh Engkau Maha Pemaaf. Engkau juga menyukai maaf. Oleh karena itu, maafkanlah aku (maafkanlah kami)."
Perbedaan keduanya hanya terletak pada ada atau tidaknya kata karim (Maha Pemurah). Bila membacanya bersama jamaah, kata fa'fu 'anni (maafkanlah aku) diganti menjadi fa'fu 'anna (maafkanlah kami), sebagaimana dicatat NU Online. Anda bebas mengamalkan salah satu di antara keduanya, keduanya benar dan berpahala.
Agar tidak sekadar hafal bunyi, ada baiknya memahami makna tiap penggalannya. Kata 'afuwwun berasal dari sifat Allah Al-'Afuww, Yang Maha Pemaaf. Para ulama menjelaskan bahwa memaafkan (al-'afwu) di sini bukan hanya menahan hukuman, melainkan menghapus jejak dosa hingga seolah tidak pernah terjadi. Lalu tuhibbul 'afwa berarti Allah bukan sekadar mampu memaafkan, tetapi menyukai dan mencintai perbuatan memaafkan itu sendiri. Penutupnya, fa'fu 'anni, adalah permohonan langsung agar diri kita termasuk yang diampuni. Susunan ini indah karena kita menyebut sifat Allah lebih dulu, mengakui bahwa Dia mencintai maaf, baru kemudian meminta. Itulah adab berdoa: memuji dan mengenali Allah sebelum menyampaikan hajat. Jika ingin melengkapi rangkaian shalat malam, Anda dapat membaca penjelasan tentang doa iftitah sebagai pembuka shalat.
Riwayat Hadits Aisyah dan Dua Redaksinya
Doa ini bukan susunan ulama belakangan, melainkan langsung diajarkan Rasulullah ketika Sayyidah Aisyah bertanya apa yang sebaiknya dibaca seandainya ia menjumpai malam Lailatul Qadar. Berikut bunyi haditsnya menurut redaksi riwayat lima imam kecuali Abu Dawud, sebagaimana dikutip NU Online:
وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قُلْتُ يَا رَسُولَ اَللَّهِ: أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيَّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ اَلْقَدْرِ, مَا أَقُولُ فِيهَا? قَالَ: "قُولِي: اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ اَلْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي" رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ غَيْرَ أَبِي دَاوُدَ, وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَالْحَاكِمُ
Artinya: "Dari Sayyidah Aisyah ra, ia bercerita, ia pernah bertanya, 'Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku mengerti sebuah malam itu adalah Lailatul Qadar. Bagaimana doa yang harus kubaca?' Rasulullah saw menjawab, 'Bacalah, Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni.'" (HR lima imam hadits kecuali Imam Abu Dawud. Hadits ini diakui sahih oleh Imam At-Tirmidzi dan Al-Hakim).
Yang menarik, permintaan Aisyah itu bukan meminta doa agar kaya atau agar hajat duniawi terkabul, melainkan bertanya doa apa yang paling tepat di malam paling mulia. Jawaban Nabi menuntunnya pada permohonan ampunan. Inilah inti amalan malam Lailatul Qadar menurut tuntunan ini, yaitu memohon maaf dan penghapusan dosa kepada Allah yang bersifat Al-'Afuww (Maha Pemaaf).
Pilihan Nabi mengajarkan doa ampunan, dan bukan doa lain, memberi kita petunjuk tentang apa yang paling utama diminta pada malam istimewa ini. Di saat banyak orang mengejar rezeki, jodoh, atau kelapangan hidup, tuntunan Nabi justru mengarahkan kita untuk mengutamakan urusan akhirat, yaitu bersihnya lembaran dosa. Bukan berarti kita dilarang memohon kebutuhan dunia pada malam itu, sebab berdoa dengan hajat apa pun tetap dibolehkan. Namun doa yang secara khusus diajarkan Rasulullah untuk malam ini adalah permohonan ampunan, sehingga sepatutnya doa inilah yang paling banyak kita ulang. Untuk melengkapi dzikir, Anda dapat mempelajari bacaan doa tahlil yang biasa dibaca dalam majelis.
Pakai kata "karim" atau tidak?
Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah apakah doa ini memakai kata karim (Allahumma innaka 'afuwwun karimun...) atau tanpa kata itu (Allahumma innaka 'afuwwun...). NU Online tidak menyembunyikan perbedaan ini dan justru menyajikan keduanya. Menurut Ustadz Alhafiz Kurniawan di NU Online, dua redaksi doa ini ditemukan dari dua riwayat hadits yang berbeda dari Sayyidah Aisyah, dan "keduanya bisa diamalkan karena berdasarkan hadits yang kuat". Redaksi dengan karim bersandar pada riwayat At-Tirmidzi, sedangkan redaksi tanpa karim bersandar pada riwayat lima imam hadits selain Abu Dawud.
Jadi tidak perlu bingung atau saling menyalahkan. Baik yang membaca dengan karim maupun tanpanya sama-sama punya sandaran riwayat. Redaksi tanpa karim memang lebih ringkas dan sangat masyhur, tetapi redaksi dengan karim pun sah karena diriwayatkan At-Tirmidzi dan dinilai sahih. Ngajia menyajikan keduanya apa adanya agar Anda bisa memilih dengan tenang, sesuai bacaan yang biasa diamalkan di lingkungan Anda.
Kapan Doa Ini Dibaca
Doa malam Lailatul Qadar dapat dibaca sepanjang bulan Ramadhan, dan lebih ditekankan lagi dibaca secara istiqamah pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Mengapa sepuluh malam terakhir? Karena mayoritas ulama mazhab Syafi'i meyakini Lailatul Qadar jatuh pada rentang waktu itu, bersandar pada isyarat hadits yang menyebut Rasulullah meningkatkan ibadahnya pada sepuluh malam tersebut.
Rasulullah juga secara khusus menganjurkan mencari Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir. Dalam hadits riwayat Imam Bukhari disebutkan:
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
Artinya: "Carilah Lailatul Qadar pada malam ganjil dalam sepuluh (malam) terakhir di bulan Ramadhan." (HR Bukhari).
Malam-malam ganjil yang dimaksud, bila dihitung dari depan, adalah malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29. Ada juga cara menghitung dari belakang berdasarkan sisa malam Ramadhan, sehingga hitungannya bisa bergeser tergantung jumlah hari dalam bulan itu. Karena itu, sebagian orang menghidupkan seluruh malam ganjil, bukan hanya satu malam saja.
Bagaimana dengan keyakinan bahwa Lailatul Qadar "pasti malam ke-27"? Pendapat ini memang ada. NU Online mengutip riwayat dari Ibnu Umar bahwa siapa yang ingin mencari Lailatul Qadar hendaklah mencarinya pada malam kedua puluh tujuh (HR Ahmad). Namun ini hanyalah salah satu pendapat sahabat, bukan kepastian. Sumber NU mencatat bahwa para sahabat dan tabiin sendiri berbeda-beda menaksir malamnya, ada yang menyebut malam ke-19, 21, 23, 24, dan seterusnya. Jadi menganggap malam ke-27 sebagai patokan mutlak tidaklah tepat.
Untuk membaca doa ini pada malam hari, Anda bisa merangkainya dengan shalat malam. Perhatikan waktu masuknya Subuh melalui jadwal sholat kota Anda agar tahu batas akhir menghidupkan malam, dan pelajari juga doa sholat tahajud untuk mengiringi qiyamul lail. Anda juga dapat menyiapkan bacaan doa Ayat Kursi sebagai bagian dari tadarus dan dzikir malam.

Lailatul Qadar Rahasia Allah dan Tandanya
Ini rambu yang paling penting untuk dipegang. Waktu pasti terjadinya Lailatul Qadar setiap tahun adalah rahasia Allah. NU Online menegaskan bahwa keagungan malam ini "sengaja diselimuti rahasia oleh Allah", dan ketidakpastian waktunya justru menjadi ujian keikhlasan seorang hamba agar beribadah tanpa terpaku pada angka dan tanggal. Dalam ulasan lain, NU Jatim menyebut bahwa kepastian waktu Lailatul Qadar "menjadi misteri yang tidak ada satu pun ulama berani menggaransi ketepatan dan kebenaran pendapatnya".
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari, sebagaimana dikutip NU Online, menjelaskan bahwa dalil-dalil yang ada hanya menunjukkan Lailatul Qadar itu ada di bulan Ramadhan, lalu lebih spesifik pada sepuluh malam terakhir, kemudian pada malam-malam ganjilnya, dan "tidak terbatas pada satu malam tertentu saja". Artinya, tuntunan syariat mengarahkan kita untuk bersungguh-sungguh di banyak malam, bukan menghitung satu tanggal pasti lalu mengabaikan malam yang lain.
Kerahasiaan ini sebenarnya mengandung hikmah. NU Jatim mengutip Ali bin Ahmad al-Jurjawi dalam Hikmatut Tasyri' wa Falsafatuhu yang menjelaskan bahwa Allah merahasiakan kapan terjadinya Lailatul Qadar agar setiap hamba bersungguh-sungguh di setiap malam, terlebih di sepuluh malam terakhir Ramadhan, dan tidak bermalas-malasan. Diibaratkan seperti Allah merahasiakan pada amal mana keridaan-Nya berada agar hamba bersemangat menaati seluruh perintah, dan menyembunyikan pada maksiat mana murka-Nya berada agar hamba berhati-hati menjauhi seluruh larangan. Dengan logika ini, seorang muslim yang cerdas justru diuntungkan oleh ketidakpastian tersebut, karena ia terdorong memaksimalkan ibadah di sebanyak mungkin malam, bukan hanya satu malam yang ia tebak sendiri.
Lalu apa saja tanda-tandanya? Sumber NU menyebut beberapa ciri yang berasal dari hadits, bukan cerita mistis. NU Jatim mengutip riwayat dari Abdullah bin Mas'ud bahwa salah satu tandanya adalah matahari terbit pada pagi harinya dalam keadaan putih cerah dan tidak menyengat (HR Muslim). Ada pula riwayat yang menyebut malam itu terasa tenang, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin, langit cerah, serta bintang-bintang terlihat jelas. Perlu dicatat, sebagian riwayat tentang ciri-ciri ini kualitasnya beragam dan tandanya baru diketahui setelah malam itu lewat, sehingga tidak bisa dijadikan alat memastikan malam mana yang akan datang. Adapun kisah-kisah seperti air yang berhenti mengalir atau pohon yang bersujud tidak Ngajia sertakan karena tidak terdapat dalam rujukan hadits yang kami pakai. Cukup pegang tanda yang bersumber, dan fokuskan tenaga pada ibadah, bukan pada perburuan tanda.
Amalan Lain di Sepuluh Malam Terakhir
Membaca doa Allahumma innaka 'afuwwun paling baik dirangkai dengan amalan lain yang dituntunkan Nabi di sepuluh malam terakhir. NU Online mengutip Ibnu Rajab al-Hanbali yang menyebut bahwa menggabungkan empat amalan, yaitu shalat, membaca Al-Quran, berdoa, dan tafakur, adalah amal yang paling utama dan paling sempurna pada malam-malam sepuluh akhir Ramadhan. Anda juga dapat membaca doa kamilin sebagai referensi doa panjang setelah rangkaian ibadah Ramadhan.
Secara ringkas, berikut amalan yang dianjurkan pada fase ini menurut tuntunan yang dihimpun NU:
- Qiyamul lail (shalat malam). Aisyah menuturkan bahwa bila masuk sepuluh malam terakhir, Rasulullah menghidupkan malam-malamnya, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan ikat pinggangnya untuk lebih giat beribadah (HR Ahmad dan Bukhari).
- Iktikaf. Aisyah juga menyatakan bahwa Rasulullah selalu beriktikaf pada sepuluh akhir Ramadhan sampai beliau wafat (HR Bukhari). Iktikaf berarti berdiam diri di masjid untuk fokus beribadah.
- Tadarus Al-Quran. Memperbanyak membaca dan merenungi Al-Quran, mengingat malam ini adalah malam diturunkannya Al-Quran.
- Memperbanyak doa dan istighfar, termasuk membaca doa malam Lailatul Qadar di atas berulang-ulang, serta bersedekah sebagaimana Rasulullah semakin dermawan di bulan Ramadhan (HR Bukhari).
Secara praktis, doa Allahumma innaka 'afuwwun bisa Anda selipkan di banyak momen sepanjang malam, misalnya seusai shalat tarawih atau tahajud, saat sujud, di antara rakaat, dan ketika berdzikir menanti waktu Subuh. Tidak ada batasan jumlah tertentu yang wajib, sehingga Anda dapat mengulanginya sebanyak mungkin selama hati masih hadir. Yang perlu dijaga adalah kualitas kehadiran hati, bukan sekadar mengejar angka hitungan. Membaca sepuluh kali dengan khusyuk dan penuh harap jauh lebih baik daripada seratus kali yang terburu-buru tanpa penghayatan. Setelah shalat, Anda dapat melanjutkan dengan doa setelah sholat sesuai tuntunan yang dipelajari.
Untuk menjaga stamina beribadah di malam hari, jangan lupakan sahur menjelang fajar. Anda bisa mengiringinya dengan doa sahur. Bila ingin memahami lebih jauh konteks ibadah Ramadhan secara umum, termasuk penetapan awalnya, silakan baca kapan puasa Ramadhan. Artikel ini sengaja memusatkan bahasan pada doa malam Lailatul Qadar, jadi rincian amalan lain cukup disinggung seperlunya.
Makna dan Keutamaan Malam Lailatul Qadar
Mengapa satu malam ini begitu diperjuangkan? Karena Allah sendiri yang menyifatinya sebagai malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Dalam Surat Al-Qadr ayat 3, Allah berfirman:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ
Latin: Lailatul-qadri khairum min alfi syahr.
Artinya: "Lailatulqadar itu lebih baik daripada seribu bulan." (QS Al-Qadr: 3).
Seribu bulan setara lebih dari 83 tahun, jauh melampaui umur rata-rata manusia. Beribadah dengan ikhlas pada malam ini nilainya melampaui ibadah selama masa itu. Karena itulah NU menggambarkannya sebagai puncak kemuliaan yang layak diperjuangkan di penghujung Ramadhan. NU Jatim bahkan mengutip kisah bahwa Surat Al-Qadr turun berkaitan dengan cerita seorang dari Bani Israil yang berjihad memanggul senjata selama seribu bulan, lalu para sahabat merasa iri, dan Allah menghadiahkan umat Nabi Muhammad satu malam yang kebaikannya melampaui seribu bulan itu.
Bagi kita yang usianya jauh lebih pendek dibanding umat terdahulu, keberadaan Lailatul Qadar adalah karunia besar. Dengan satu malam yang diisi ibadah tulus, seorang muslim bisa meraih pahala yang setara dengan ibadah puluhan tahun. Inilah bentuk kasih sayang Allah kepada umat akhir zaman, sebuah kesempatan yang tidak sepatutnya dilewatkan dengan tidur atau kesibukan yang tidak perlu.
Selain keutamaan pahala, malam ini juga menjadi perantara ampunan. Rasulullah bersabda bahwa siapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan keikhlasan, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR Bukhari). Inilah yang menyambungkan keutamaan malam ini dengan isi doanya. Doa Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni memohon persis apa yang paling berharga di malam ini, yaitu ampunan dari Allah Yang Maha Pemaaf.
Jika Anda punya pertanyaan fikih pribadi seputar amalan malam Lailatul Qadar, misalnya soal iktikaf bagi perempuan atau tata cara qiyamul lail dalam kondisi tertentu, sebaiknya tanyakan kepada ustadz yang Anda percaya. Anda juga bisa mengirimkan pertanyaan melalui halaman Tanya Ustadz agar dijawab sesuai konteks Anda.
Sumber Rujukan
- NU Online - Doa Malam Lailatul Qadar
- NU Online - 2 Doa Lailatul Qadar: Arab, Latin, dan Terjemahannya
- NU Online Lampung - Doa yang Dapat Dibaca pada Malam Lailatul Qadar
- NU Online - Kultum Ramadhan: Keutamaan 10 Malam Terakhir dan Cara Mendapatkan Lailatul Qadar
- NU Online Jatim - Malam Lailatul Qodar Perspektif Al-Qur'an dan Hadis
- NU Online Lampung - Tingkatkan Ibadah di Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan
- Quran NU Online - Surat Al-Qadr
Catatan redaksi. Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi Ngajia dengan merujuk sumber di atas dan ditinjau sebelum terbit. Untuk pertanyaan fikih yang bersifat khusus dan berkaitan dengan kondisi pribadi Anda, silakan bertanya melalui Tanya Ustadz atau merujuk langsung kepada ustadz dan lembaga fatwa resmi.


