NgajiaRujukan Keislaman Harian
Jadwal SholatDoa & DzikirKisah TeladanGaya HidupUmroh & HajiTanya UstadzKalkulator ZakatArah Kiblat
Doa

Doa Setelah Membaca Surat Yasin: Bacaan Lengkap, Latin, dan Artinya

Doa yasin adalah rangkaian doa yang lazim dibaca setelah menamatkan surat Yasin, berisi permohonan penjagaan atas agama, diri, keluarga, dan harta, lalu ditutup ampunan dan shalawat. NU Online menyebut lafalnya berasal dari Habib Abdullah al-Haddad dan dinukil Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dalam kitab Abwabul Faraj, jadi ia susunan ulama, bukan sabda Nabi.

Ditulis oleh Tim Redaksi Ngajia . Terbit . Terakhir diperbarui

Doa Setelah Membaca Surat Yasin: Bacaan Lengkap, Latin, dan Artinya

Doa yasin adalah rangkaian doa yang lazim dibaca setelah menamatkan surat Yasin, berisi permohonan penjagaan atas agama, diri, keluarga, anak, dan harta, lalu ditutup dengan permohonan ampunan dan shalawat. Satu hal perlu diketahui sejak awal, dan kami memilih menaruhnya di paragraf pertama daripada menyembunyikannya di bawah: lafal doa ini bukan sabda Nabi Muhammad. NU Online Jabar menyebut secara terbuka bahwa doa ini berasal dari Habib Abdullah al-Haddad, sebagaimana dinukil Syekh Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki Al-Hasani dalam kitab Abwabul Faraj. Artinya ia susunan ulama: boleh diamalkan, tetapi tidak boleh dilabeli hadits. Artikel ini menyajikan lafalnya lengkap dengan arti, lalu memeriksa keutamaan surat Yasin beserta status haditsnya apa adanya, waktu mengamalkannya, dan adabnya.

Bacaan Doa Setelah Membaca Surat Yasin

Doa ini terdiri atas lima bagian yang dibaca berurutan seusai menamatkan surat Yasin. Kami menyalin lafal Arabnya dari Quran NU Online pada halaman kumpulan doa membaca Al-Quran, bagian yang berjudul Doa Usai Baca Surat Yasin.

Bagian pertama: menitipkan semua yang kita punya

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْتَحْفِظُكَ وَنَسْتَوْدِعُكَ أَدْيَانَنَا وَأَنْفُسَنَا وَأَهْلَنَا وَأَوْلَادَنَا وَأَمْوَالَنَا وَكُلَ شَيْءٍ أَعْطَيْتَنَا

Latin: Allâhumma innâ nastahfidzuka wa nastaudi'uka adyânanâ wa anfusanâ wa ahlanâ wa aulâdanâ wa amwâlanâ wa kulla syai'in a'thaitanâ.

Artinya: "Ya Allah, kami memohon penjagaan-Mu dan menitipkan kepada-Mu agama kami, diri kami, keluarga kami, anak-anak kami, harta benda kami, dan apa saja yang telah Engkau berikan kepada kami."

Bagian kedua: memohon perlindungan

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا وَإِيَّاهُمْ فِيْ كَنَفِكَ وَأَمَانِكَ وَجِوَارِكَ وَعِيَاذِكَ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ مَرِيدٍ وَجَبَّارٍ عَنِيْدٍ وَذِيْ عَيْنٍ وَذِيْ بَغْيٍ وَمِنْ شَرِّ كُلِّ ذِيْ شَرٍّ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Latin: Allâhummaj'alnâ wa iyyâhum fî kanafika wa amânika wa jiwârika wa 'iyâdzika min kulli syaithânin marîd wa jabbârin 'anîd wa dzî 'ainin wa dzî baghyin wa min syarri kulli dzî syarrin innaka 'alâ kulli syai'in qadîr.

Artinya: "Ya Allah, semoga Engkau jadikan kami dan mereka semua dalam pemeliharaan, tanggungan, kedekatan, dan perlindungan-Mu dari godaan setan yang menggoda, orang yang kejam, zalim dan durhaka, dan dari kejahatan penjahat, sesungguhnya Engkau adalah Mahakuasa atas segala sesuatu."

Bagian ketiga: afiat dan istiqamah

اَللّٰهُمَّ جَمِّلْنَا بِالْعَافِيَةِ وَالسَّلَامَةِ وَحَقِّقْنَا بِالتَّقْوٰى وَالْاِسْتِقَامَةِ وَأَعِذْنَا مِنْ مُوْجِبَاتِ النَّدَامَةِ إِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاءِ

Latin: Allâhumma jammilnâ bil 'âfiyati was salâmati wa haqqiqnâ bit taqwâ wal istiqâmati wa a'idznâ min mûjibâtin nadâmati innaka samî'ud du'â'.

Artinya: "Ya Allah, baguskanlah kami dengan kesehatan dan keselamatan, dan sejatikanlah kami dengan takwa dan istiqamah, jagalah kami dari penyesalan, karena sesungguhnya Engkau Maha Mendengarkan doa."

Bagian keempat: memohon ampunan yang meluas

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْلَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَلِأَوْلَادِنَا وَمَشَايِخِنَا وَلِإِخْوَانِنَا فِي الدِّيْنِ وَلِأَصْحَابِنَا وَأَحْبَابِنَا وَلِمَنْ أَحَبَّنَا فِيْكَ وَلِمَنْ أَحْسَنَ إِلَيْنَا وَ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Latin: Allâhummaghfirlanâ wa li wâlidînâ wa li aulâdinâ wa masyâyikhinâ wa li ikhwâninâ fid dîni wa li ashhâbinâ wa ahbâbinâ wa liman ahabbanâ fîka wa liman ahsana ilainâ wa lil mu'minîna wal mu'minâti wal muslimîna wal muslimâti yâ rabbal 'âlamîn.

Artinya: "Ya Allah ampunilah kami, kedua orang tua kami, anak-anak kami, guru-guru kami, saudara-saudara kami seagama, sahabat-sahabat kami, kekasih-kekasih kami, orang yang mengasihi kami karena Engkau, dan kepada siapa saja yang berbuat baik kepada kami, orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, dan orang-orang yang beragama Islam laki-laki dan perempuan, wahai Tuhan seluruh keberadaan."

Bagian kelima: shalawat dan penutup

وَصَلِّ اَللّٰهُمَّ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ. وَارْزُقْنَا كَمَالَ الْمُتَابَعَةِ لَهُ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا فِيْ عَافِيَةٍ وَسَلَامَةٍ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

Latin: Wa shalli Allâhumma 'alâ 'abdika wa rasûlika sayyidinâ wa maulânâ Muhammadin wa 'alâ âlihi wa shahbihi wa sallim. Warzuqnâ kamâlal mutâba'ati lahu dhâhiran wa bâthinan fî 'âfiyatin wa salâmatin birahmatika yâ arhamar râhimîn.

Artinya: "Ya Allah limpahkanlah rahmat dan keselamatan kepada hamba dan utusan-Mu, yaitu junjungan kami Nabi Muhammad beserta para keluarga dan sahabatnya. Karuniailah kami kesempurnaan dalam mengikuti beliau secara lahir dan batin, dalam keadaan sehat dan selamat dengan rahmat-Mu wahai sebaik-baik Penyayang dari para penyayang."

Catatan Penyalinan: Kalau Anda membandingkan lafal di atas dengan buku Yasin di rumah, mungkin ada beda tipis. Itu wajar, dan kami memilih terbuka soal itu. Dua laman NU sendiri berbeda pada satu kata di bagian pertama: Quran NU Online menulis وَكُلَ tanpa tasydid, sedangkan NU Online Jabar menulis وَكُلِّ. Latin di kedua laman itu sama-sama membaca wa kulla, dan terjemahnya sama-sama "dan apa saja yang telah Engkau berikan kepada kami". Kami menyalin apa adanya dari Quran NU Online tanpa mengarang perbaikan sendiri, karena mengoreksi lafal Arab berdasarkan dugaan pribadi justru berarti berhenti mengutip dan mulai menyusun.
Pro Tip: Baca dulu artinya sebelum menghafal bunyinya. Perhatikan bahwa bagian pertama bukan meminta tambahan, melainkan menitipkan apa yang sudah ada: agama, diri, keluarga, anak, harta. Ini doa orang yang sadar bahwa semua itu bukan miliknya, melainkan barang titipan. Kalau kesadaran itu hadir, satu kali membaca dengan paham jauh lebih berarti daripada tiga kali membaca sambil melamun.

Dari Mana Lafal Doa Ini Berasal?

Pertanyaan yang jarang ditanyakan pembaca, padahal paling menentukan: apakah Rasulullah mengajarkan doa khusus untuk dibaca seusai surat Yasin?

Jawaban jujurnya: tidak ada lafal doa khusus setelah surat Yasin yang bersumber dari sabda Nabi pada laman-laman NU yang kami buka. Yang ada justru keterangan yang berbeda, dan NU sendiri menuliskannya secara terbuka di paragraf pembuka. NU Online Jabar menyebut bahwa doa yang dimuatnya adalah "doa setelah membaca surat Yasin dari Habib Abdullah al Hadda[d] sebagaimana dikutip Syekh Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki Al Hasani dalam kitab Abwabul Faraj".

Dua nama itu perlu didudukkan. Habib Abdullah al-Haddad adalah ulama Hadramaut yang wafat pada abad ke-18 dan dikenal luas lewat susunan wiridnya, sedangkan Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki adalah ulama Makkah kontemporer yang wafat pada 2004 dan menghimpunnya dalam Abwabul Faraj. Keduanya hidup ratusan tahun setelah masa kenabian. Maka rangkaian doa ini jelas susunan ulama, bukan riwayat dari Nabi. Menariknya, kitab yang sama juga menjadi sumber doa setelah membaca surat Al-Waqiah, jadi pola atribusinya konsisten dan bisa Anda periksa sendiri.

Perlu ditegaskan supaya tidak salah tangkap: status sebagai susunan ulama itu bukan aib, dan tidak membuatnya terlarang. Berdoa dengan kalimat susunan manusia adalah hal yang lumrah dalam Islam. Anda berdoa dengan bahasa Indonesia sendiri seusai shalat pun sah dan berpahala, selama isinya tidak melanggar syariat. Doa susunan ulama justru punya keunggulan praktis: susunannya rapi, adabnya terjaga, dan maknanya sudah ditimbang oleh orang yang paham.

Yang bermasalah bukan mengamalkannya, melainkan salah melabelinya. Ketika doa susunan ulama disebarkan dengan bungkus "doa yang diajarkan Rasulullah setelah Yasin", di situ terjadi penisbatan tanpa dasar kepada Nabi, dan itu perkara serius. Karena itu kami menuliskannya apa adanya, meskipun terus terang semacam ini kurang menjual dibanding judul yang menjanjikan.

Key Takeaway: Membaca doa ini boleh dan baik. Menyebutnya sabda Nabi tidak boleh. Dua kalimat itu tidak bertentangan dan keduanya perlu dipegang bersamaan. Kalau Anda menyebarkannya ke grup keluarga, cukup tulis bahwa lafalnya dari Habib Abdullah al-Haddad yang dinukil Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dalam kitab Abwabul Faraj, sebagaimana keterangan NU Online Jabar.

Kalau Anda hanya ingin berdoa seusai membaca Al-Quran tanpa terikat lafal tertentu, itu pun sudah cukup. Tidak ada kewajiban membaca rangkaian di atas, dan tidak ada satu pun sumber yang kami buka yang menyatakan bacaan Yasin menjadi tidak sah tanpa doa penutup ini.

Keutamaan Surat Yasin dan Status Haditsnya

Inilah bagian yang paling sering dipelintir, jadi mari kita periksa pelan-pelan.

Mulai dari yang tidak diperselisihkan. NU Online Jatim menerangkan bahwa Surat Yasin adalah surat ke-36 dalam Al-Quran, terdiri atas 83 ayat, dan termasuk golongan Makkiyah. Pokok isinya berkisar pada akidah umat sebelum Nabi Muhammad, perjuangan Rasulullah menyampaikan risalah kenabian, dan keagungan Allah. Menurut ulama, kalimat Ya Sin sendiri ditafsirkan sebagai sumpah Allah, nama Allah, nama Al-Quran, atau nama Nabi Muhammad. Sampai di sini semuanya aman.

Yang jadi soal adalah hadits-hadits fadhilahnya, dan jumlahnya sangat banyak beredar.

"Yasin jantung Al-Quran"

Riwayat paling masyhur adalah yang ini, sebagaimana dinukil NU Online Lampung dari tafsir Imam al-Qurthubi:

إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْبًا، وَقَلْبُ الْقُرْآنِ يس

"Sesungguhnya segala sesuatu memiliki hati, dan hati Al-Qur'an adalah Yasin." (HR al-Tirmizi dari Anas bin Malik)

NU Online Lampung menuliskan status riwayat ini dengan hati-hati: "Walaupun sanad hadits ini diperselisihkan oleh sebagian ahli, para ulama tetap menerimanya dalam kerangka fadhail a'mal (keutamaan amal)". Perhatikan bahwa laman itu tidak menyebut derajat spesifiknya, hanya bahwa sanadnya diperselisihkan. Kami tidak akan mengisi kekosongan itu dengan tebakan.

Yang memerinci justru Muhammadiyah, dan hasilnya keras. Dalam kajian bertajuk Meninjau Hadis-hadis Tentang Keutamaan Membaca QS. Yasin, Muhammadiyah membedah delapan riwayat satu per satu:

  • Yasin hati Al-Quran, berpahala 10 kali khatam (HR at-Tirmidzi No. 2812): menurut at-Tirmidzi sendiri hadis ini garib, dan dalam sanadnya ada perawi bernama Harun Abu Muhammad yang majhul (tidak diketahui). Pada jalur ad-Darimi No. 3282, Muhammadiyah mencatat riwayat ini "dinilai palsu oleh Syaikh al-Albani".
  • Pembacanya diampuni dosanya (HR Ahmad No. 19415): ada tiga perawi majhul, "jadi hadis ini termasuk hadis daif dan tidak dapat dijadikan hujah".
  • Membaca Yasin pada malam hari lalu diampuni (HR ad-Darimi No. 3281): ada perawi yang tidak diketahui namanya dan perawi majhul, "tidak dapat dijadikan hujah".
  • Membaca Yasin di awal siang lalu terpenuhi kebutuhannya (HR ad-Darimi No. 3284): perawi Syuja' bin al-Walid bin Qais buruk hafalannya.
  • Membaca Yasin lalu dimudahkan urusannya (HR ad-Darimi No. 3285): dua perawinya buruk hafalannya.
  • Membaca Yasin di malam Jumat lalu diampuni (HR al-Baihaqi No. 2248 dalam Syu'ab al-Iman): daif dan bermasalah, karena ada Hisyam bin Ziyad yang menurut Ibnu Hajar al-Asqalani matruk.

Jadi kesimpulan yang jujur adalah ini: mayoritas hadits fadhilah Yasin yang beredar bermasalah, mulai dari daif sampai dinilai palsu, dan itu penilaian yang tertulis di kajian resmi Muhammadiyah, bukan tuduhan kami. Kalau Anda pernah membaca artikel berjudul "keutamaan surat Yasin menurut hadits shahih" lalu di dalamnya ada poin "berpahala 10 kali khatam", judul itu sedang keliru.

Lalu bagaimana sikap NU? NU Online tidak menyembunyikan kelemahan itu, dan justru mengakuinya sambil menjelaskan konsekuensinya. Pada pembahasan dalil membaca Yasin di malam Jumat, NU Online mengutip Syekh Abdur Rauf al-Manawi dalam Faydl al-Qadir yang menilai hadits berikut:

من قرأ سورة يس والصافات ليلة الجمعة أعطاه الله سؤله

"Barangsiapa membaca surat Yasin dan al-Shaffat di malam Jumat, Allah mengabulkan permintaannya." (HR Abu Daud dari al-Habr)

Kalimat NU Online berikutnya patut dibaca dua kali: "Al-Manawi menegaskan bahwa hadits ini tergolong hadits yang sanadnya terputus." Setelah itu NU Online tetap menyimpulkan bahwa "meskipun kualitas sanad hadits tentang keutamaan bacaan Surat Yasin ini tergolong lemah, namun tetap dianjurkan dan dapat diamalkan isi kandungannya", dengan sandaran kaidah yang dikutip dari Syekh Ibnu Hajar al-Haitami:

وقد تقرر أن الحديث الضعيف والمرسل والمنقطع والمعضل والموقوف يعمل بها في فضائل الأعمال إجماعا

"Dan merupakan ketetapan bahwa hadits dla'if, mursal, munqathi', mu'dlal dan mauquf dapat dipakai untuk keutamaan amal menurut kesepakatan ulama." (Ibnu Hajar al-Haitami, al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah, juz 2, halaman 53)

Catatan Redaksi: Perhatikan bahwa NU dan Muhammadiyah sebenarnya sepakat pada faktanya, yaitu sanad hadits-hadits fadhilah Yasin memang lemah. Yang berbeda adalah kesimpulan amaliahnya: NU memakai kaidah bahwa hadits lemah boleh dipakai untuk fadhail a'mal, sementara Muhammadiyah menilai hadits bermasalah tidak dapat dijadikan hujah, sehingga Yasin boleh dibaca kapan saja tetapi tanpa pengkhususan. Menurut hemat kami, cara paling sehat memperlakukan ini bukan dengan membuang haditsnya, dan bukan pula dengan mengeraskannya jadi jaminan. Bacalah dengan lapang, sampaikan statusnya dengan jujur, dan jangan bangun janji di atasnya.

Kapan Surat Yasin dan Doanya Lazim Dibaca

Di sini kami harus berhati-hati, sebab inilah bagian yang paling banyak diisi karangan oleh berbagai situs.

Malam Jumat. NU Online Jatim menggambarkan kenyataan di akar rumput dengan apa adanya: surat Yasin populer saat mengisi kegiatan diniyah seperti tahlilan dan malam Jumat, sampai warga mengenalnya dengan sebutan jamaah Yasinan malam Jumat. Dari sisi dalil, NU Online mengakui bahwa yang paling kuat justru anjuran membaca Surat al-Kahfi, "bahkan beberapa di antaranya mencapai derajat hadits shahih", sedangkan anjuran Yasin bersandar pada riwayat yang sanadnya terputus tadi. Al-Manawi sendiri, menurut kutipan NU Online, membantah anggapan bahwa hanya al-Kahfi yang boleh dibaca di malam Jumat.

Muhammadiyah menutup kajiannya dengan rumusan yang sebenarnya cukup lapang: "surah Yasin boleh dibaca setiap malam termasuk malam Jumat, namun tidak boleh dikhususkan malam Jumat saja, begitu pula surah yang lain."

Tahlilan. Surat Yasin lazim dibaca sebagai bagian dari rangkaian tahlil, biasanya sebelum masuk ke susunan hadhoroh, surat pendek, tahlil, tasbih, shalawat, dan doa penutup. Karena rangkaian tahlil punya susunan tersendiri yang panjang, kami tidak mengulangnya di sini; urutan lengkapnya beserta lafal dan artinya sudah kami bahas terpisah pada doa tahlil.

Di sisi orang sakit dan yang wafat. Ini yang paling sering ditanyakan, dan pembahasannya ada di bagian berikutnya.

Adapun jam tertentu? Berbagai situs menyebut Yasin harus dibaca ba'da Ashar, atau harus tiga kali di malam tertentu agar hajat terkabul. Patokan semacam itu tidak kami temukan pada sumber NU maupun Muhammadiyah yang kami rujuk. Waktu yang disebut riwayat hanya "pada suatu malam", "di awal siang", atau "di malam Jumat", dan riwayat-riwayat itu sendiri berstatus lemah seperti sudah dipaparkan. Kami memilih tidak mengarang ketentuan yang tidak ada, meski bagian ini jadi terlihat lebih sepi daripada artikel sebelah yang berani memastikan jamnya dan hitungannya.

Yasin untuk yang Sakit dan Wafat: Dua Pandangan

Bagian ini menyentuh perkara yang sensitif, jadi kami sajikan kedua pandangan apa adanya tanpa merendahkan salah satunya.

Titik perdebatannya satu riwayat:

اقْرَءُوا يس عَلَى مَوْتَاكُم

"Bacakanlah Yasin kepada orang-orang mati di antara kalian." (Sunan Abi Dawud, sebagaimana dinukil NU Online Lampung)

Pandangan NU. NU Online Lampung menempatkan riwayat ini sebagai "landasan utama amaliah membaca Yasin ketika seseorang berada dalam keadaan sakaratul maut maupun setelah wafat sebagai bentuk doa dan pengiring ruh menuju Allah". Pada tulisan lain, NU Online Lampung mengutip Imam Asy-Syaukani dalam Ar-Rasail As-Salafiyyah yang menyebut berkumpul membaca Al-Quran lalu menghadiahkan pahalanya kepada yang wafat hukumnya jaiz (boleh) selama tidak ada kemaksiatan di dalamnya, dan menyebut bacaan Yasin "yang didasarkan pada hadits shahih seperti Iqra'u Yasin 'ala Mautakum". Menurut Asy-Syaukani, tidak ada bedanya apakah dilakukan di dekat mayit atau di atas kuburnya, di masjid atau di rumah.

Pandangan Muhammadiyah. Kajian Muhammadiyah menilai jalur Ahmad No. 19415 yang memuat kalimat "Bacakanlah surah tersebut terhadap orang-orang yang mati di antara kalian" sebagai hadis daif yang tidak dapat dijadikan hujah, karena ada tiga perawi majhul. Namun kajian yang sama tidak menolak semuanya: untuk riwayat membaca Yasin di sisi orang yang sedang sakaratul maut (HR Ahmad No. 16355), Muhammadiyah mencatat bahwa Syu'aib Arnauth menilai sanadnya hasan dan al-Albani menegaskan kesahihannya. Hanya saja statusnya atsar mauquf, sehingga Muhammadiyah menyimpulkan: "riwayat yang tsabit terkait keutamaan khusus surah Yasin hanya berasal dari atsar yang mauquf, yang merupakan ijtihad pribadi seorang sahabat Nabi."

Jadi peta sebenarnya tidak sehitam-putih yang sering digambarkan di media sosial. Keduanya sepakat mendoakan yang wafat itu dianjurkan, dan keduanya sepakat pada data sanadnya. Yang berbeda adalah bobot yang diberikan pada riwayat lemah dan pada atsar mauquf. Ini perbedaan ijtihad yang lapang, bukan sebab untuk saling menuduh. Pembahasan yang lebih dekat pada soal pahala bacaan sampai atau tidak, beserta dalil kedua pihak, ada pada doa untuk orang meninggal dan doa ziarah kubur.

Poin Penting: Satu hal yang jarang disebut padahal tertulis jelas di sumber NU. Sayyid Sabiq dalam Fikih Sunnah, sebagaimana dikutip NU Online Lampung, menyebut bahwa bagi yang meyakini sampainya pahala bacaan, disyaratkan pembacanya tidak menerima upah; jika ia mengambil upah, "maka haramlah hukumnya". Ada juga syarat niat menghadiahkan dan doa setelahnya. Praktik menyewa pembaca Yasin dengan tarif justru menabrak syarat yang dipegang oleh pihak yang membolehkannya sendiri.

Adab Membacanya, dan Yasin Bukan Jimat

Sering terjadi orang sibuk mengejar doa penutupnya, padahal yang bernilai justru bacaan Al-Qurannya sendiri.

Mulai dengan ta'awudz dan basmalah, lalu bacalah dengan tartil. Yasin hanya 83 ayat, dan itu justru menggoda untuk dikebut dalam beberapa menit demi mengejar setoran. Membaca cepat tanpa memahami sepatah pun bukanlah bentuk kesungguhan. Kalau kantuk datang, berhenti dulu; membaca sambil terkantuk-kantuk tidak lebih utama daripada tidur lalu membacanya besok dengan sadar.

Pahami isinya. Ini yang paling terlewat. Yasin bicara tentang risalah kenabian, orang-orang yang menolak peringatan, tanda-tanda kekuasaan Allah di alam, kebangkitan, dan hari pembalasan. Ia surat peringatan. Membacanya berulang tanpa pernah tahu bahwa isinya adalah teguran keras kepada orang yang berpaling adalah sebuah ironi tersendiri.

Yasin bukan jimat, bukan pelaris, bukan mantra. Bagian ini perlu ditulis paling tegas. Menulis ayat Yasin lalu menempelkannya di kios sebagai penglaris, menjadikannya wafak, menjualnya sebagai "amalan pembuka rezeki" bermahar sekian rupiah, atau menjanjikan bahwa membacanya sekian kali pada malam tertentu pasti mendatangkan hajat pada tanggal tertentu: semua itu tidak berdasar, dan sebagiannya sudah menyentuh persoalan akidah, bukan sekadar beda fikih.

Alasannya bisa Anda periksa dari dua arah. Pertama, dari isi suratnya. Yasin tidak memuat satu pun perintah kepada benda, alam, atau makhluk. Menjadikannya mantra berarti membalik arah bicaranya, dari peringatan akhirat menjadi alat pengejar dunia. Kedua, dari isi doanya sendiri. Doa setelah Yasin justru menitipkan agama, diri, keluarga, dan harta kepada Allah, dan memohon dijaga dari setan serta orang zalim. Orang yang menjadikannya jimat sedang menggantungkan hati pada selembar kertas, padahal kalimat yang ia baca meminta agar semua yang ia punya dititipkan kepada Allah, bukan kepada kertas itu.

Dan seperti doa apa pun, ini bukan transaksi. Tidak ada satu pun sumber yang kami rujuk menjanjikan hasil tertentu bagi pembacanya. Riwayat yang menjanjikan pun, sebagaimana sudah dipaparkan panjang lebar di atas, berstatus lemah menurut penilaian yang dimuat NU maupun Muhammadiyah sendiri. Membaca Yasin adalah ibadah dan permohonan, dan ia berdiri di samping ikhtiar yang nyata, bukan menggantikannya.

Bila Anda punya persoalan pribadi seputar pengamalan ini, misalnya pernah terlanjur menebus "amalan Yasin" bermahar tertentu, atau ragu apakah rutinitas Yasinan keluarga Anda sudah pada tempatnya, silakan berkonsultasi lewat halaman Tanya Ustadz atau kepada ustadz setempat yang memahami konteks Anda secara utuh.

Catatan redaksi. Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi Ngajia dengan merujuk sumber di atas dan ditinjau sebelum terbit. Untuk pertanyaan fikih yang bersifat khusus dan berkaitan dengan kondisi pribadi Anda, silakan bertanya melalui Tanya Ustadz atau merujuk langsung kepada ustadz dan lembaga fatwa resmi.

FAQ

Pertanyaan seputar doa yasin

TApa doa setelah membaca surat Yasin?

Doa yang dimuat Quran NU Online terdiri atas lima bagian yang dibaca berurutan. Bagian pertama diawali "Allâhumma innâ nastahfidzuka wa nastaudi'uka adyânanâ", yang menitipkan agama, diri, keluarga, anak, dan harta kepada Allah. Bagian kedua memohon perlindungan dari setan dan orang zalim, bagian ketiga memohon afiat dan istiqamah, bagian keempat memohon ampunan bagi diri sendiri, orang tua, guru, dan kaum muslimin, lalu bagian kelima berisi shalawat dan penutup.

TApakah doa setelah surat Yasin berasal dari hadits Nabi?

Tidak. NU Online Jabar menyebut secara terbuka bahwa doa tersebut berasal dari Habib Abdullah al-Haddad sebagaimana dikutip Syekh Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki Al-Hasani dalam kitab Abwabul Faraj. Artinya lafal ini susunan ulama, bukan sabda Rasulullah. Mengamalkannya boleh dan baik, tetapi menyebarkannya sebagai doa yang diajarkan Nabi tidak dibenarkan karena itu penisbatan tanpa dasar.

TBenarkah surat Yasin adalah jantung Al-Quran dan berpahala 10 kali khatam?

Riwayat itu ada, tetapi statusnya bermasalah. Menurut kajian Muhammadiyah, hadis at-Tirmidzi No. 2812 dinilai garib oleh at-Tirmidzi sendiri dan dalam sanadnya ada perawi majhul bernama Harun Abu Muhammad; pada jalur ad-Darimi No. 3282 riwayat ini bahkan dinilai palsu oleh Syaikh al-Albani. NU Online Lampung menyebut sanadnya diperselisihkan sebagian ahli namun tetap diterima dalam kerangka fadhail a'mal, tanpa menyebut derajat spesifiknya. Jadi ia tidak boleh dikutip seolah shahih.

TApakah ada dalil membaca surat Yasin di malam Jumat?

Ada, tetapi lemah, dan NU Online menyatakannya sendiri. NU Online mengutip Syekh Abdur Rauf al-Manawi dalam Faydl al-Qadir yang menegaskan bahwa hadits "barangsiapa membaca surat Yasin dan al-Shaffat di malam Jumat" riwayat Abu Daud dari al-Habr sanadnya terputus. NU tetap menganjurkan mengamalkannya berdasarkan kaidah Ibnu Hajar al-Haitami bahwa hadits lemah boleh dipakai untuk fadhail a'mal. Muhammadiyah menyimpulkan Yasin boleh dibaca setiap malam termasuk malam Jumat, namun tidak boleh dikhususkan malam Jumat saja.

TBolehkah membacakan surat Yasin untuk orang yang sakit atau sudah wafat?

Di sini ada dua pandangan. NU menjadikan riwayat "Iqra'u Yasin 'ala Mautakum" sebagai landasan amaliah membaca Yasin saat sakaratul maut maupun setelah wafat, dan NU Online Lampung mengutip Imam Asy-Syaukani bahwa menghadiahkan pahala bacaan kepada yang wafat hukumnya jaiz. Muhammadiyah menilai jalur Ahmad No. 19415 daif dan tidak dapat dijadikan hujah, namun mencatat bahwa riwayat membaca Yasin di sisi orang sakaratul maut (HR Ahmad No. 16355) sanadnya hasan meski berstatus atsar mauquf. Keduanya sepakat mendoakan yang wafat itu dianjurkan.

TKapan waktu terbaik membaca surat Yasin dan doanya?

Tidak ada patokan jam tertentu pada sumber NU maupun Muhammadiyah yang kami rujuk. Waktu yang disebut riwayat hanya "pada suatu malam", "di awal siang", atau "di malam Jumat", dan riwayat-riwayat itu sendiri berstatus lemah. Anjuran yang beredar bahwa Yasin harus dibaca ba'da Ashar atau sekian kali pada malam tertentu agar hajat terkabul tidak kami temukan dasarnya. Pilih waktu yang membuat Anda bisa membaca dengan sadar dan tenang.

TBolehkah surat Yasin dijadikan penglaris atau jimat?

Tidak boleh, dan ini menyentuh akidah, bukan sekadar perbedaan fikih. Menulis ayatnya lalu menempelkannya di kios, menjadikannya wafak, atau menjualnya sebagai amalan bermahar tidak berdasar pada isi suratnya, sebab Yasin adalah surat peringatan tentang risalah kenabian dan hari pembalasan. Ironisnya doa setelah Yasin sendiri justru menitipkan agama, diri, keluarga, dan harta kepada Allah, sehingga menjadikannya jimat berarti melakukan kebalikan dari kalimat yang diucapkan sendiri.

Artikel Terkait

Bacaan lain seputar doa