
Adab islami adalah tata krama yang diajarkan Islam dalam setiap aktivitas sehari-hari, mulai dari cara makan, minum, tidur, bertamu, memberi salam, hingga bergaul dengan sesama. Adab menempati posisi penting dalam ajaran Islam. Bahkan para ulama terdahulu mempelajari adab sebelum ilmu, karena adab yang baik menjadi wadah bagi ilmu dan amal. Artikel ini merangkum adab sehari-hari yang perlu diperhatikan setiap muslim, lengkap dengan dalil dan doanya dari sumber yang otoritatif.
Perbedaan Adab dan Akhlak
Meski sering disamakan, adab dan akhlak memiliki penekanan berbeda. Menurut penjelasan NU Online yang merujuk antara lain pada Ibnu al-Atsir dalam kitab an-Nihayah dan Muhammad Abdullah Darraz dalam Kalimat fi Mabadi' Ilmi al-Akhlaq, akhlak adalah tabiat dan watak alami yang tertanam dalam jiwa, yang melahirkan perbuatan secara spontan tanpa perencanaan. Akhlak diibaratkan perangkat lunak dalam diri manusia yang menggerakkan tindakan fisik secara natural.
Adapun adab adalah ekspresi lahiriah yang timbul dari akhlak itu. Para ulama juga menyebutnya dengan istilah suluk, yaitu corak amal dan tata kramanya. Perbedaan keduanya bisa diringkas dalam tiga poin:
- Letaknya: akhlak bersifat abstrak dan internal di dalam jiwa, sedangkan adab bersifat konkret dan tampak pada perbuatan fisik.
- Sifatnya: akhlak cenderung menetap, sedangkan adab dapat berubah dan dilatih.
- Konteksnya: adab dipengaruhi konteks budaya dan tempat, sedangkan akhlak tidak terikat lokasi.
Dengan kata lain, akhlak adalah akarnya, sedangkan adab adalah buah yang tampak dalam perilaku. Karena adab dapat dilatih, siapa pun bisa memperbaikinya mulai hari ini, sedikit demi sedikit, sampai menjadi kebiasaan yang membentuk akhlak.
Adab Makan dan Minum
Rasulullah mencontohkan banyak adab ketika makan. NU Online Lampung merangkum hingga 23 etika makan yang dicontohkan beliau. Berikut poin-poin utamanya yang mudah diamalkan sehari-hari:
- Membaca basmalah sebelum makan dan berdoa sesudahnya. Jika lupa membaca basmalah, bacalah saat ingat: "bismillahi fi awwalihi wa akhirihi".
- Makan dan minum dengan tangan kanan. Sahabat Salamah bin al-Akwa' meriwayatkan bahwa Rasulullah langsung menegur seorang pria yang makan dengan tangan kiri (riwayat Muslim).
- Mengambil makanan dari bagian pinggir, bukan dari tengah atau pucuknya. Dalam hadits riwayat Abu Dawud dan At-Tirmidzi disebutkan, "Keberkahan itu turun di tengah makanan. Maka, makanlah di pinggir-pinggirnya, jangan di tengah-tengahnya."
- Menghabiskan makanan di piring dan mengambil makanan yang terjatuh, sebab kita tidak tahu pada bagian mana keberkahan itu berada (riwayat At-Tirmidzi).
- Tidak mencela makanan; jika suka dimakan, jika tidak ditinggalkan tanpa komentar.
- Tidak bernapas di dalam gelas ketika minum, sebagaimana hadits riwayat Ibnu Majah, serta menunggu makanan panas hingga cukup dingin.
- Tidak makan sambil bersandar, tiduran, atau berdiri kecuali darurat.
- Berbagi makanan, termasuk dengan tetangga, dan menunjukkan rasa gembira kepada orang yang memasakkan makanan untuk kita.
Salah satu doa sebelum makan yang masyhur adalah:
اَللّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Latin: Allaahumma baarik lanaa fiimaa razaqtanaa wa qinaa 'adzaaban naar.
Artinya: "Ya Allah, berkahilah kami pada rezeki yang telah Engkau berikan, dan peliharalah kami dari siksa api neraka."
Setelah makan, dianjurkan berdoa sebagai bentuk syukur:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَطْعَمَنِى هَذَا الطَّعَامَ وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ
Artinya: "Segala puji hanya milik Allah, Zat yang telah memberikan makanan ini kepadaku dan memberikannya sebagai rezeki bagiku tanpa daya dan kekuatan dariku."
Adab Bertamu dan Menerima Tamu
Bertamu adalah bagian dari silaturahmi yang dicontohkan Rasulullah. Muhammad bin Ahmad as-Safarini dalam kitab Ghida' al-Albab Syarh Mandzumah al-Adab, sebagaimana dikutip NU Online, merinci beberapa adab bagi tamu:
- Meminta izin dan mengucapkan salam sebelum masuk, tidak lebih dari tiga kali.
- Menyantap hidangan yang disuguhkan tanpa banyak beralasan sudah kenyang.
- Tidak banyak bertanya tentang isi rumah, kecuali arah kiblat atau letak kamar kecil.
- Tidak mengintip atau memperhatikan bagian rumah yang bersifat pribadi, termasuk ruangan keluarga perempuan.
- Menerima tempat duduk yang ditawarkan tuan rumah tanpa menolak.
- Membasuh tangan sebelum makan dan tidak keluar rumah tanpa izin tuan rumah.
- Tidak berlama-lama sehingga memberatkan. Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa jamuan yang menjadi hak tamu berjangka waktu tiga hari; lebih dari itu terhitung sedekah dari tuan rumah.
Sebaliknya, tuan rumah dianjurkan menyambut tamu dengan wajah ceria, murah senyum, dan rendah hati, tidak menampakkan muka masam. Memuliakan tamu termasuk tanda keimanan kepada Allah dan hari akhir. Bahkan dalam riwayat Ad-Dailami disebutkan bahwa kedatangan tamu membawa berkah rezeki dan menjadi sebab pengampunan dosa bagi tuan rumah. Jadi kalau ada tamu datang mendadak saat rumah sedang berantakan, tenang, itu justru kabar baik.
Adab Memberi Salam
Menyebarkan salam adalah sunnah yang dianjurkan dan menjadi sebab tumbuhnya kasih sayang antar muslim. Ucapan salam yang paling sempurna adalah "Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh". Muhammadiyah merangkum tuntunan urutan pemberi salam berdasarkan hadits Nabi:
- Yang berkendara memberi salam kepada yang berjalan kaki.
- Yang berjalan memberi salam kepada yang duduk.
- Kelompok yang lebih sedikit memberi salam kepada yang lebih banyak.
- Yang lebih muda memberi salam kepada yang lebih tua.
Menjawab salam hukumnya wajib, sedangkan memulainya sunnah. Ini termasuk lima hak seorang muslim atas muslim lainnya sebagaimana hadits riwayat Bukhari dan Muslim. Idealnya salam dijawab dengan yang lebih baik atau minimal setara. Ada dua kondisi seseorang tidak menjawab salam, yaitu ketika sedang melaksanakan sholat dan ketika sedang buang hajat. Adapun kepada ahli kitab, kita tidak memulai salam; jika mereka mengucapkan salam, cukup dijawab dengan "Wa'alaikum".
Adab Sebelum Tidur
Islam bahkan mengatur adab menjelang tidur. Muhammadiyah merangkum enam adab sebelum tidur di malam hari yang dicontohkan Rasulullah:
- Tidur di awal malam dan tidak banyak begadang, sebagaimana kebiasaan Nabi yang diriwayatkan Abu Barzah (riwayat Bukhari dan Muslim).
- Berwudhu sebelum tidur. Dari al-Baro' bin 'Azib, Nabi bersabda, "Jika kamu mendatangi tempat tidurmu maka wudhulah" (riwayat Bukhari no. 247).
- Berbaring pada sisi kanan badan (riwayat Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710).
- Membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas sambil meniup kedua telapak tangan lalu mengusapkannya ke tubuh, sebagaimana riwayat 'Aisyah (riwayat Bukhari no. 5017).
- Membaca Ayat Kursi, karena dengannya seseorang senantiasa dalam penjagaan Allah (riwayat Bukhari no. 3275).
- Membaca doa sebelum tidur sebagaimana riwayat dari Hudzaifah:
بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَحْيَا وَأموتُ
Latin: Bismika allahumma ahya wa amutu.
Artinya: "Dengan nama-Mu ya Allah aku hidup dan aku mati."
Rangkaian adab tidur ini berpasangan indah dengan amalan bangun malam. Bagi yang ingin melanjutkannya, pelajari juga doa sholat tahajud agar malam tidak hanya diakhiri dengan adab, tetapi juga dibuka kembali dengan ibadah.
Adab Bergaul Sehari-hari
Dalam pergaulan, seorang muslim dianjurkan menjaga lisan, menepati janji, berkata jujur, serta menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda. Prinsip-prinsip ini tampak sederhana, tetapi justru paling sering diuji di keseharian: di grup WhatsApp keluarga, di komentar media sosial, di antrean, dan di tempat kerja.
Bayangkan skenario yang akrab bagi kita: menjelang Lebaran, grup WhatsApp keluarga besar ramai oleh perdebatan kecil soal jadwal kumpul. Satu orang yang menahan diri untuk tidak membalas dengan nada tinggi, memilih kata yang baik, dan menutup pesan dengan salam, sesungguhnya sedang mempraktikkan adab islami yang nilainya tidak kalah dari ibadah ritual. Adab bergaul memang tidak selalu tampak heroik, tetapi di situlah akhlak diuji setiap hari.
Adab Bertetangga
Tetangga adalah lingkaran sosial terdekat setelah keluarga, dan Islam memberinya porsi perhatian yang besar. NU Online Lampung mengutip hadits riwayat At-Thabrani yang membagi tetangga ke dalam tiga kategori hak. Tetangga yang musyrik memiliki satu hak, yaitu hak tetangga. Tetangga muslim memiliki dua hak, yaitu hak sesama muslim dan hak tetangga. Adapun tetangga muslim yang sekaligus bersaudara memiliki tiga hak sekaligus. Perincian ini menegaskan satu hal yang sering luput: kewajiban memenuhi hak tetangga tidak berhenti pada tetangga yang seiman.
Dalam riwayat lain Rasulullah bersabda, "Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tetangga" (riwayat Abu Dawud), dan "Perbaikilah hubungan baik dengan orang yang bertetangga denganmu, niscaya engkau akan menjadi Muslim yang baik" (riwayat Ibnu Majah). Sebuah riwayat panjang yang dikutip NU Online Lampung bahkan memerinci hak tetangga secara sangat konkret: menolong ketika ia meminta bantuan, meminjami ketika ia meminta pinjaman, memberi ketika ia kekurangan, menjenguk ketika ia sakit, mengantar jenazahnya ketika ia meninggal, mengucapkan selamat ketika ia mendapat kebaikan, menghiburnya ketika ia tertimpa musibah, dan tidak meninggikan bangunan sehingga menghalangi angin ke rumahnya tanpa izin darinya.
Adapun Imam Al-Ghazali dalam risalah al-Adab fid Din, sebagaimana dikutip NU Online, merangkum dua belas adab bertetangga:
- Mendahului mengucapkan salam ketika bertemu.
- Tidak berlama-lama berbicara, antara lain agar terhindar dari ghibah dan fitnah.
- Tidak banyak bertanya sampai terlalu jauh mengorek urusan pribadi orang lain.
- Menjenguk tetangga yang sakit, tanpa memandang status sosialnya.
- Berbela sungkawa ketika tetangga tertimpa musibah, terutama kematian anggota keluarga.
- Ikut bergembira atas keberhasilannya, bukan justru iri.
- Berbicara dengan lembut kepada anak dan pembantu tetangga.
- Memaafkan kesalahan ucapnya, sebab kita pun bisa terselip lidah suatu saat.
- Menegur kesalahannya dengan cara yang halus agar teguran itu diterima dengan baik.
- Menundukkan pandangan dari istrinya untuk menghindari fitnah.
- Memberikan pertolongan ketika ia membutuhkan.
- Tidak terus-menerus memandang pembantu perempuannya.
Perhatikan bahwa mayoritas isinya bukan perkara besar, melainkan pengendalian diri: mendahului salam, tidak berlama-lama bicara, tidak banyak bertanya. Menurut hemat redaksi, ini koreksi yang menarik atas anggapan umum bahwa tetangga yang baik adalah yang paling akrab dan paling tahu segalanya. Al-Ghazali justru menempatkan menjaga jarak yang sopan sebagai bagian dari adab. Bahasan lebih lengkapnya bisa disimak di adab bertetangga dalam Islam.
Adab Berpakaian dan Adab di Masjid
Adab juga menyentuh cara kita berpakaian, terlebih ketika menghadap Allah. NU Online Jatim mengutip hadits riwayat At-Tirmidzi, "Pakailah pakaian kalian yang berwarna putih. Karena sesungguhnya pakaian putih termasuk pakaian terbaik bagi kalian." Landasannya adalah perintah Allah dalam surat Al-A'raf ayat 31 agar anak Adam mengenakan pakaian yang indah setiap memasuki masjid, serta makan dan minum tanpa berlebihan. Logikanya sederhana dan menohok: jika menghadap guru atau pejabat saja kita berpakaian rapi, tentu menghadap Allah semestinya lebih rapi lagi.
NU Online Jombang merangkum etika ketika berangkat dan berada di masjid, di antaranya:
- Berdoa ketika keluar rumah menuju masjid, serta ketika masuk dan keluar masjid, dengan mendahulukan kaki kanan saat melangkah masuk.
- Berjalan menuju masjid dengan tenang dan tidak tergesa-gesa, sebagaimana riwayat dari Abu Qatadah, sekalipun sholat berjamaah sudah dimulai.
- Menjaga kebersihan dan kesucian masjid, bahkan dianjurkan memberinya wangi-wangian.
- Berpakaian rapi, sopan, dan menutup aurat; bagi perempuan mengenakan kerudung.
- Tidak menjadikan masjid tempat mencari keuntungan duniawi seperti transaksi bisnis, karena fungsinya adalah ibadah dan kemaslahatan sosial.
- Tidak meludah atau berdahak di dalam masjid.
- Menjaga bau mulut dan bau badan, terutama setelah menyantap makanan berbau tajam.
Poin terakhir itu sering dianggap sepele, padahal ia adalah adab kepada jamaah lain yang berdiri rapat di sebelah kita.
Adab Menjaga Lisan dan Bermedia Sosial
Satu hal yang sering dilupakan: adab bergaul juga berlaku di ruang digital. Dalam khutbah "Menjaga Lisan di Era Digital", Muhammadiyah mengingatkan bahwa tidak ada satu kata pun yang diucapkan melainkan ada malaikat pengawas yang selalu siap mencatat, sebagaimana surat Qaf ayat 18. Khutbah itu lalu menarik garis lurus yang penting: setiap kata yang keluar dari mulut kita maupun yang kita ketik di media sosial sama-sama akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Ketika Rasulullah ditanya siapa muslim yang paling baik, beliau menjawab, "Seseorang yang orang-orang muslim yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya." Muhammadiyah menyoroti bahwa hadits ini menyebut dua hal sekaligus, yaitu lisan dan tangan. Di era digital, tangan itu berwujud jari yang mengetik komentar dan menekan tombol bagikan. Dari sini lahir dua etika praktis yang ditekankan: memeriksa ulang kebenaran informasi sebelum membagikannya sebagai wujud menghormati orang lain, dan menjadikan media sosial sarana menyebarkan kebaikan yang membawa maslahat, bukan sekadar menahan diri dari keburukan.
Cara termudah menerapkannya, sebelum membalas komentar atau meneruskan pesan berantai, tanyakan tiga hal sederhana: apakah benar, apakah bermanfaat, dan apakah cara menyampaikannya baik. Jika salah satu jawabannya tidak, lebih selamat untuk diam. Diam yang beradab jauh lebih baik daripada komentar yang menyakiti.
Menerapkan Adab dalam Keseharian
Menurut hemat redaksi, kesalahan paling umum dalam mempelajari adab adalah menganggapnya sebagai daftar aturan yang harus dihafal sekaligus. Padahal para ulama mencontohkan pendekatan bertahap: satu adab dibiasakan sampai melekat, baru berpindah ke adab berikutnya. Mulailah dari momen yang pasti terjadi setiap hari, misalnya adab makan dan salam, karena keduanya terulang berkali-kali sehingga cepat menjadi kebiasaan.
Beberapa langkah praktis yang bisa dicoba pekan ini:
- Jadikan waktu makan keluarga sebagai latihan adab makan: duduk, tangan kanan, baca doa, tanpa ponsel.
- Biasakan salam lengkap setiap masuk rumah, kantor, atau kelas.
- Sebelum tidur, jalankan minimal wudhu dan doa tidur, lalu bangun untuk sholat tepat waktu dengan bantuan jadwal sholat kota Anda.
- Latih kepekaan sosial dengan berbagi, misalnya menghitung dan menunaikan zakat penghasilan secara rutin, karena adab kepada sesama juga mencakup adab terhadap harta.
- Setelah sholat, jangan buru-buru beranjak; amalkan doa setelah sholat sebagai penutup yang beradab kepada Allah.
Punya pertanyaan seputar adab yang belum terjawab? Sampaikan lewat Tanya Ustadz, dan perdalam juga cara mandi wajib yang benar sebagai bagian dari adab bersuci seorang muslim.
Sumber Rujukan
- NU Online - Mengenal Perbedaan Akhlak dan Adab dalam Islam
- NU Online - Adab-adab dalam Bertamu
- NU Online Lampung - Adab Makan dalam Islam
- Muhammadiyah - Adab Salam
- Muhammadiyah - Adab Sebelum Tidur di Malam Hari
- NU Online - 12 Adab Bertetangga menurut Imam Al-Ghazali
- NU Online Lampung - Adab Bertetangga, Ada 3 Hak yang Harus Dipenuhi
- NU Online Jombang - Moral Etika di Dalam Masjid
- NU Online Jatim - Pakaian Terbaik yang Dikenakan saat Masuk Masjid
- Muhammadiyah - Khutbah Jumat: Menjaga Lisan di Era Digital
Catatan redaksi. Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi Ngajia dengan merujuk sumber di atas dan ditinjau sebelum terbit. Untuk pertanyaan fikih yang bersifat khusus dan berkaitan dengan kondisi pribadi Anda, silakan bertanya melalui Tanya Ustadz atau merujuk langsung kepada ustadz dan lembaga fatwa resmi.


