
Dzikir pagi dan petang adalah amalan yang sangat dianjurkan untuk membentengi diri, menenangkan hati, dan meraih keberkahan sepanjang hari. Al-Qur'an berulang kali memerintahkan mengingat Allah pada waktu pagi dan petang. Waktu utamanya adalah setelah shalat Subuh hingga terbit matahari untuk dzikir pagi, dan setelah Asar hingga terbenam matahari untuk dzikir petang. Artikel ini menghimpun bacaan dzikir pilihan beserta waktunya, dengan bacaan utama berupa Sayyidul Istighfar sebagaimana dijelaskan NU Online.
Dalil Anjuran Dzikir Pagi dan Petang
Anjuran berzikir pada waktu pagi dan petang bukan sekadar tradisi, melainkan perintah yang berulang di dalam Al-Qur'an. Menurut penjelasan NU Online, Imam an-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar menyebutkan sejumlah ayat yang menjadi dasar anjuran dzikir di waktu Subuh, di antaranya Surat Thaha ayat 130, Surat Ghafir ayat 55, Surat An-Nisa ayat 148, Al-An'am ayat 52, An-Nur ayat 36, dan Surat Shad ayat 18.
Salah satunya adalah firman Allah dalam Surat Thaha ayat 130:
وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا
Artinya: "Bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum terbit dan sebelum terbenam matahari." (QS Thaha: 130)
Kemudian dalam Surat Ghafir ayat 55, Allah berfirman:
وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ
Artinya: "Bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu pada pagi dan petang." (QS Ghafir: 55)
Kedua ayat ini secara jelas menunjuk dua momen istimewa dalam sehari: sebelum matahari terbit dan sebelum matahari terbenam. Imam an-Nawawi menegaskan bahwa lafal dzikir yang baik dibaca di waktu subuh berasal dari Rasulullah SAW dan jumlahnya sangat banyak. Mereka yang mampu mengamalkan semuanya terbilang orang yang beruntung, sedangkan yang tidak sanggup boleh menyingkatnya meski hanya dengan satu lafal dzikir. Prinsip ini sangat melegakan: dzikir pagi petang bukan paket "semua atau tidak sama sekali", melainkan amalan yang bisa disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.
Waktu Dzikir Pagi dan Petang
Para ulama menjelaskan waktu dzikir pagi dan petang sebagai berikut:
- Dzikir pagi: waktu utamanya sejak selesai shalat Subuh hingga terbit matahari. Sebagian ulama melapangkan hingga masuk waktu Dhuha bagi yang berhalangan.
- Dzikir petang: waktu utamanya sejak masuk waktu Asar hingga terbenam matahari, dan sebagian melapangkan hingga sepertiga awal malam.
Rentang waktu ini selaras dengan redaksi ayat "sebelum terbit dan sebelum terbenam matahari" pada Surat Thaha ayat 130 di atas. Karena patokannya adalah waktu Subuh, Asar, dan posisi matahari, jam pastinya berbeda-beda antarkota di Indonesia. Untuk memastikan waktu Subuh dan Asar secara tepat, Anda dapat memeriksa jadwal sholat sesuai kota Anda.
Apakah Dzikir Pagi Gugur Kalau Waktunya Lewat?
Ini pertanyaan yang paling sering muncul, dan jawabannya melegakan. Rentang "setelah Subuh hingga terbit matahari" adalah waktu utama, yakni waktu yang paling besar keutamaannya, bukan tenggat yang membuat amalan hangus bila terlewat. NU Online mengutip perkataan Ibnu Abbas yang menerangkan bahwa Allah menentukan waktu-waktu khusus untuk semua ibadah dan memaafkan hamba-Nya yang menunaikan ibadah itu di luar waktunya, kecuali ibadah dzikir, karena Allah justru tidak menentukan waktu khusus untuk ibadah yang satu ini.
Dasar yang sama ditegaskan NU Online dalam pembahasan lain: pada dasarnya mengingat Allah tidak terikat dengan tempat dan waktu, kapan saja dan di mana saja seorang hamba semestinya selalu mengingat Allah. Perintahnya sendiri disebut dalam Surat Al-Insan ayat 25, "Dan sebutlah nama Tuhanmu pada (waktu) pagi dan petang."
Perlu kami sampaikan apa adanya: laman NU yang kami rujuk tidak mematok jam berapa persisnya dzikir pagi dinyatakan "habis", dan tidak pula membahas skema qadha khusus seperti pada shalat fardhu yang terlewat. Yang tegas adalah dua hal: waktu utamanya ada pada rentang tersebut, dan dzikir tidak termasuk ibadah yang dikunci waktunya. Karena itu, terlambat membaca dzikir pagi hingga menjelang Dhuha jauh lebih baik daripada meninggalkannya sama sekali. Untuk kasus pribadi yang lebih spesifik, silakan berkonsultasi lewat tanya ustadz atau kepada ustadz setempat.
Bedanya dengan Wirid Setelah Shalat
NU Online Lampung membagi zikir menjadi dua jenis yang penting dibedakan. Pertama, zikir yang terkait waktu dan tempat, yaitu zikir di dalam shalat dan sesudah shalat. Jenis ini menuntut wudhu yang sempurna dan menghadap kiblat. Kedua, zikir yang bebas kapan saja dan tidak terikat waktu maupun tempat, seperti membaca shalawat dan tasbih. Dzikir pagi petang berada dekat dengan kelompok kedua, sehingga tidak menuntut syarat seketat wirid ba'da shalat.
Isinya pun berbeda. NU Online menerangkan bahwa Rasulullah SAW melazimkan dzikir tertentu setiap kali selesai shalat wajib, yakni tasbih, tahmid, dan takbir masing-masing 33 kali, lalu ditutup dengan tahlil. Menurut riwayat Abu Hurairah, siapa yang mengamalkannya maka dosanya diampuni meskipun sebanyak buih di lautan. Jadi wirid ba'da shalat punya susunan dan bilangannya sendiri, terikat pada setiap shalat lima waktu, sedangkan dzikir pagi petang terikat pada dua momen harian dan susunannya lebih lentur.
Bagaimana dengan himpunan populer seperti Al-Ma'tsurat? Perlu kami tegaskan bahwa laman NU yang kami jadikan rujukan dalam artikel ini tidak membahasnya, sehingga kami tidak akan menyimpulkan apa pun tentang susunan atau penyusunnya. Yang bisa kami katakan: panduan di artikel ini bersandar pada Al-Adzkar karya Imam an-Nawawi sebagaimana dikutip NU Online, dan tidak terikat pada satu himpunan tertentu.
Sayyidul Istighfar
Sayyidul Istighfar berarti "penghulu istighfar", yaitu lafal permohonan ampun yang paling utama dari sekian bentuk istighfar. Imam an-Nawawi dalam Al-Adzkar memasukkannya ke dalam doa harian yang dianjurkan dibaca pada pagi dan sore hari. Bacaannya sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW dalam riwayat Imam Bukhari:
اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ. أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ. أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ
Latin: Allaahumma anta rabbii laa ilaaha illaa anta, khalaqtanii wa ana 'abduka, wa ana 'alaa 'ahdika wa wa'dika mastatha'tu. A'uudzu bika min syarri maa shana'tu, abuu'u laka bi ni'matika 'alayya wa abuu'u bi dzanbii, faghfirlii fa innahuu laa yaghfirudz dzunuuba illaa anta.
Artinya: "Ya Allah, Engkau Tuhanku, tidak ada tuhan selain Engkau. Engkau menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada dalam ikatan janji dan setia kepada-Mu sekuat kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku. Maka ampunilah aku, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau."
Makna dan Kandungan Sayyidul Istighfar
Mengapa lafal ini disebut penghulu semua istighfar? NU Online Jabar menjelaskan bahwa Sayyidul Istighfar memuat tiga pengakuan sekaligus yang membuatnya lebih utama dari bentuk istighfar lainnya. Pertama, pengakuan status penciptaan: hamba mengakui bahwa Allah yang menciptakannya dan ia sepenuhnya milik Allah. Kedua, pengakuan nikmat: hamba mengakui segala karunia yang selama ini ia terima datang dari Allah. Ketiga, pengakuan dosa: hamba jujur mengakui kesalahannya tanpa mencari pembenaran, lalu memohon ampun hanya kepada Allah.
Susunan ini menjadikan Sayyidul Istighfar bukan sekadar ucapan "astaghfirullah" biasa, melainkan sebuah dialog utuh antara hamba dan Tuhannya: dimulai dari tauhid, berlanjut ke pengakuan janji dan kelemahan diri, lalu ditutup dengan permohonan ampunan. Menurut hemat redaksi, justru di sinilah letak kekuatannya. Orang yang membacanya dengan sadar sedang melatih kejujuran spiritual setiap pagi dan sore, sebelum sibuk dengan urusan dunia.
Bacaan Dzikir Pilihan Lainnya
Selain Sayyidul Istighfar, ada bacaan tasbih yang secara khusus disebutkan dalam hadits untuk diamalkan pagi dan petang. Riwayat dalam Shahih Muslim menyebut lafalnya:
سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ
Latin: Subhaanallaahi wa bihamdih.
Artinya: "Mahasuci Allah dengan segala puji bagi-Nya."
Adapun riwayat dalam Sunan Abu Dawud menyebut lafal tasbih dengan tambahan:
سُبْحَانَ اللهِ العَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ
Latin: Subhaanallaahil 'azhiimi wa bihamdih.
Artinya: "Mahasuci Allah yang Maha Agung dengan segala puji bagi-Nya."
Tasbih ini dianjurkan dibaca sebanyak seratus kali pada pagi dan sore hari. Di samping itu, dalam himpunan dzikir pagi petang yang lazim diamalkan masyarakat Indonesia, biasanya turut dibaca:
- Ayat kursi satu kali sebagai bacaan perlindungan.
- Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas masing-masing tiga kali.
- Tahlil: "Laa ilaaha illallaah wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa 'alaa kulli syai'in qadiir."
- Doa-doa perlindungan dan permohonan lain yang dianjurkan, seperti doa Nabi Yunus ketika sedang menghadapi kesulitan.
Sekali lagi, tidak semua bacaan wajib dibaca setiap hari. Imam an-Nawawi sendiri menyatakan bahwa yang tidak sanggup mengamalkan seluruhnya boleh memilih sebagian, bahkan satu lafal saja tetap berpahala. Yang penting adalah keberlangsungannya, bukan banyaknya.
Ayat Kursi dan Tiga Qul di Pagi Petang
Ayat kursi termasuk bacaan yang lazim dirangkai dalam dzikir pagi petang. NU Online Jatim menghimpun sejumlah keutamaannya, dan satu di antaranya berkaitan langsung dengan dua waktu ini. Perlu dicatat baik-baik syaratnya sebagaimana tertulis di sana: jika seseorang membaca ayat Kursi dan dilanjutkan dengan membaca tiga ayat pertama Surat Al-Mu'min pada pagi hari, maka Allah menjaga pembacanya sampai sore; bila dibaca pada sore hari, Allah menjaganya sampai pagi. Kami sebutkan syarat "dilanjutkan tiga ayat pertama Al-Mu'min" apa adanya, karena keutamaan itu memang dilekatkan pada rangkaian tersebut, bukan pada ayat kursi yang berdiri sendiri.
NU Online Jatim juga menyebut keutamaan lain: ayat Kursi merupakan induk semua ayat Al-Qur'an, dan bila dibaca menjelang tidur, Allah menyertakan malaikat penjaga sehingga setan tidak dapat mendekati pembacanya sampai pagi. Karena lafal lengkap beserta latin dan artinya sudah kami muat terpisah, silakan merujuk ke artikel doa ayat kursi agar tidak terpenggal. Adapun susunan lengkap bacaan harian dapat Anda ikuti di halaman dzikir pagi dan dzikir petang, sedangkan lafal penghulu istighfar tersedia di halaman sayyidul istighfar.
Soal Hitungan: 3 Kali, 33 Kali, atau 100 Kali?
Angka-angka dalam dzikir bukan karangan, melainkan datang dari redaksi haditsnya sendiri. Tasbih "Subhaanallaahi wa bihamdih" disebut seratus kali pada pagi dan sore dalam riwayat Muslim, sementara tasbih, tahmid, dan takbir ba'da shalat disebut 33 kali dalam riwayat Abu Hurairah. Sayyidul Istighfar sendiri tidak dipatok bilangan tertentu dalam riwayat Bukhari yang dikutip NU Online.
Lalu, apakah bilangan itu harus persis? Di sini kami memilih jujur: laman NU dan Muhammadiyah yang kami periksa untuk artikel ini tidak memuat putusan eksplisit tentang boleh tidaknya menambah atau mengurangi bilangan yang sudah disebut hadits. Karena itu kami tidak akan mengarang jawabannya. Yang tersedia dan tegas adalah prinsip Imam an-Nawawi tadi, bahwa orang yang tidak sanggup mengamalkan seluruh lafal boleh menyingkatnya, meski hanya dengan satu lafal dzikir. Praktisnya, bacalah bilangan sebagaimana disebut hadits bila mampu, dan jangan berhenti total bila hanya sanggup sedikit. Bila Anda butuh kepastian hukum untuk kondisi tertentu, tanyakan lewat tanya ustadz.
Keutamaan Dzikir Pagi Petang
Rasulullah SAW menyebutkan ganjaran istimewa bagi yang membaca Sayyidul Istighfar. Imam Bukhari meriwayatkan dari Syaddad bin Aus RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, siapa yang membaca Sayyidul Istighfar di sore hari lalu ia wafat pada malamnya, maka ia termasuk penghuni surga; dan siapa yang membacanya di pagi hari dengan penuh keyakinan lalu wafat pada siangnya, maka nasibnya sama, termasuk penghuni surga. Keterangan ini dinukil Imam an-Nawawi dalam Al-Adzkar.
Tasbih seratus kali juga memiliki keutamaan yang luar biasa. Dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa saja yang membaca "Subhaanallaahi wa bihamdih" seratus kali ketika pagi dan ketika sore, niscaya pada hari kiamat tidak ada orang yang datang membawa amal yang lebih baik daripadanya, kecuali orang yang mengamalkan bacaan yang sama atau melebihinya.
Dua hadits ini menggambarkan betapa besar nilai amalan yang secara hitungan waktu sebenarnya sangat ringan. Membaca Sayyidul Istighfar butuh kurang dari satu menit, dan tasbih seratus kali umumnya selesai dalam beberapa menit saja. Dibandingkan waktu yang kita habiskan untuk menggulir media sosial setiap pagi, porsi waktu untuk dzikir ini nyaris tidak terasa.
Tata Cara Mengamalkan Sehari-hari
Tidak ada aturan kaku dalam urutan dzikir pagi petang, namun urutan praktis berikut bisa membantu Anda memulai:
- Selesaikan shalat Subuh atau Asar terlebih dahulu. Dzikir pagi paling mudah dirangkai langsung setelah wirid Subuh, dan dzikir petang setelah wirid Asar, sehingga tidak perlu mencari waktu khusus.
- Pastikan diri dalam kondisi tenang. Duduklah sejenak, tidak perlu berpindah tempat. Kondisi suci dari hadats lebih utama; jika berhadats besar, bersucilah dulu dengan mandi wajib.
- Mulai dengan Sayyidul Istighfar satu kali dengan penuh keyakinan dan penghayatan makna.
- Lanjutkan bacaan pilihan: ayat kursi, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, kemudian tasbih "Subhaanallaahi wa bihamdih" hingga seratus kali.
- Tutup dengan doa pribadi sesuai kebutuhan hari itu, misalnya memohon kelancaran pekerjaan, kesehatan keluarga, atau kemudahan urusan.
Adab Berzikir: Suci, Suara, dan Sambil Beraktivitas
Banyak orang menunda dzikir pagi karena merasa syaratnya berat. Padahal tidak seketat itu. NU Online Lampung menjelaskan bahwa zikir di luar shalat, misalnya sambil duduk, berbaring, berjalan, di atas kendaraan, atau saat duduk bermajelis, tidak harus dalam keadaan berwudhu dan tidak harus menghadap kiblat. Yang menuntut wudhu sempurna dan menghadap kiblat adalah zikir di dalam shalat dan sesudah shalat. Keterangan ini penting bagi Anda yang berzikir di perjalanan, di angkutan umum, atau di sela pekerjaan.
Senada dengan itu, NU Online Jateng menerangkan bahwa umat dianjurkan mengingat Allah dalam keadaan apa pun, baik di dalam ibadah maupun di luar ibadah, termasuk ketika sedang bekerja, berjalan, berbelanja, dan mengajar. Meski begitu, kondisi tenang dan suci tetap lebih utama, terutama untuk bacaan yang butuh penghayatan seperti Sayyidul Istighfar.
Bagaimana dengan volume suara? NU Online menyimpulkan bahwa dzikir tidak harus keras atau pelan, melainkan bergantung pada situasi dan kondisi. Bila tujuannya mengajarkan, membimbing, atau menambah kekhusyukan, mengeraskan suara hukumnya sunnah dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Sebaliknya, memelankan suara justru disunnahkan bila mengeraskannya berpotensi mengganggu kekhusyukan diri sendiri maupun orang lain, mengganggu orang yang sedang tidur, atau menimbulkan riya. NU Online Jabar menambahkan bahwa hadits-hadits yang ada memang membolehkan dzikir dengan suara keras, tetapi tanpa berlebih-lebihan dalam mengeraskannya. Untuk dzikir pagi di rumah yang anggotanya masih tidur, memelankan suara jelas lebih bijak.
Kapan Sebaiknya Dzikir Dihentikan Sejenak
Imam an-Nawawi dalam Al-Adzkar, sebagaimana dikutip NU Online, menyebut sejumlah kondisi yang membuat orang berzikir disunnahkan memutus dzikirnya lalu melanjutkannya kembali: ketika ada yang memberi salam sehingga ia wajib menjawab, ketika ada yang bersin sehingga ia mendoakannya, ketika mendengar khatib berkhutbah sehingga ia lebih baik menyimak, ketika mendengar adzan dan iqamah sehingga ia menjawab dengan lafal yang sama, ketika melihat kemungkaran sehingga ia mencegahnya atau ada yang meminta petunjuk sehingga ia memenuhinya, dan ketika sangat mengantuk. Intinya, dzikir tidak menjadikan seseorang menutup diri dari sekitarnya.
Kesalahan Umum yang Perlu Dihindari
- Menunda hingga waktunya lewat. Niat "nanti saja setelah sarapan" sering berujung terlewat sama sekali. Rangkaikan langsung dengan shalat agar tidak tertunda.
- Mengejar jumlah tanpa makna. Membaca seratus tasbih dengan terburu-buru sampai lafalnya tidak jelas justru menghilangkan ruh dzikir. Lebih baik pelan tetapi sadar apa yang diucapkan.
- Merasa gagal karena tidak lengkap. Sebagaimana penjelasan Imam an-Nawawi, satu lafal dzikir pun tetap bernilai. Jangan berhenti total hanya karena tidak sempat membaca semuanya.
- Menganggapnya pengganti shalat. Dzikir pagi petang adalah pelengkap, bukan pengganti ibadah wajib. Adab dan urutan prioritas ibadah tetap harus dijaga; selengkapnya bisa dibaca di artikel adab islami.
Tips Istiqamah Berzikir
Bayangkan seorang karyawan di Bekasi yang setiap pagi berangkat pukul enam mengejar KRL ke Jakarta. Rasanya mustahil menambah "agenda baru" di pagi hari. Namun banyak yang akhirnya menemukan celahnya: Sayyidul Istighfar dibaca sesaat setelah salam shalat Subuh, lalu tasbih seratus kali dicicil selama berjalan ke stasiun. Sampai di peron, dzikir pagi sudah selesai tanpa mengambil satu menit pun dari jadwal hariannya. Pola serupa bisa diterapkan siapa saja: ibu rumah tangga sambil menyiapkan sarapan, pedagang sambil membuka lapak, atau mahasiswa sambil menunggu kelas pertama.
- Jadikan dzikir sebagai rutinitas yang menempel pada shalat Subuh dan Asar agar tidak terlewat.
- Gunakan buku saku dzikir atau aplikasi untuk membantu menghafal urutannya.
- Mulai dari jumlah yang ringan lalu tingkatkan secara bertahap agar konsisten.
- Hayati makna setiap bacaan agar dzikir tidak sekadar lisan, tetapi meresap ke hati.
- Bagi yang gemar ibadah malam, rangkaikan dzikir pagi dengan rutinitas sholat tahajud menjelang Subuh sehingga pagi Anda dibuka dengan rangkaian ibadah yang utuh.
Sumber Rujukan
- NU Online - Ini Lafal Dzikir Utama di Waktu Subuh (dalil ayat, Sayyidul Istighfar, tasbih riwayat Muslim dan Abu Dawud, Al-Adzkar)
- NU Online Lampung - Lafal dan Keutamaan Sayidul Istighfar, Amalkan Pagi dan Sore
- NU Online Jabar - Sayidul Istighfar: Lafal Arab Latin dan Keutamaan Membacanya (kandungan tiga pengakuan)
- NU Online Lampung - Hukum Berdzikir dalam Keadaan Tanpa Berwudhu (Ibnu Abbas: Allah tidak menentukan waktu khusus untuk dzikir)
- NU Online Lampung - Zikir sambil Tidur-tiduran (dua jenis zikir; zikir di luar shalat tidak harus wudhu dan menghadap kiblat)
- NU Online - 6 Kondisi Seseorang Disunnahkan Berhenti Melafalkan Dzikir (QS Al-Insan 25; dzikir tidak terikat tempat dan waktu; Al-Adzkar)
- NU Online - Ini Susunan Dzikir dan Wirid Sesudah Shalat Maghrib dan Subuh (tasbih, tahmid, takbir 33 kali, riwayat Abu Hurairah)
- NU Online Jateng - Bolehkah Berdzikir sambil Main Handphone? (dzikir saat bekerja, berjalan, berbelanja, mengajar)
- NU Online - Berdzikir dengan Pengeras Suara (keras atau pelan bergantung situasi dan kondisi)
- NU Online Jabar - Hukum dan Dalil Dzikir dengan Suara Keras (boleh, tanpa berlebih-lebihan)
- NU Online Jatim - Berikut Keutamaan Membaca Ayat Kursi (dirangkai tiga ayat pertama Surat Al-Mu'min, dijaga pagi hingga sore)
Catatan redaksi. Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi Ngajia dengan merujuk sumber di atas dan ditinjau sebelum terbit. Untuk pertanyaan fikih yang bersifat khusus dan berkaitan dengan kondisi pribadi Anda, silakan bertanya melalui Tanya Ustadz atau merujuk langsung kepada ustadz dan lembaga fatwa resmi.


