NgajiaRujukan Keislaman Harian
Jadwal SholatDoa & DzikirKisah TeladanGaya HidupUmroh & HajiTanya UstadzKalkulator ZakatArah Kiblat
Kisah Teladan

Doa dan Kisah Nabi Yunus

Doa Nabi Yunus berbunyi "Laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minazh zhaalimiin" yang artinya "Tidak ada tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim." Doa ini terekam dalam Al-Qur'an surat Al-Anbiya ayat 87, dipanjatkan Nabi Yunus saat berada dalam kegelapan perut ikan, dan menjadi teladan doa untuk memohon jalan keluar ketika seseorang tertimpa kesulitan, kesempitan, atau kesedihan.

Ditulis oleh Tim Redaksi Ngajia . Terbit . Diperbarui

Doa dan Kisah Nabi Yunus

Doa Nabi Yunus adalah salah satu doa paling terkenal dalam Al-Qur'an, dipanjatkan ketika beliau berada dalam himpitan tiga kegelapan: gelapnya malam, gelapnya laut, dan gelapnya perut ikan. Bacaannya singkat, "Laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minazh zhaalimiin", tetapi kandungannya sangat padat karena memuat tauhid, tasbih, dan pengakuan diri sekaligus. Doa ini menjadi teladan bagi siapa saja yang sedang menghadapi kesulitan, karena mengajarkan cara kembali kepada Allah dengan benar. Kisah dan doa ini termaktub dalam surat Al-Anbiya ayat 87, dan Allah langsung menegaskan jawaban-Nya pada ayat 88: doanya dikabulkan dan beliau diselamatkan dari kedukaan.

Bacaan Doa Nabi Yunus

Doa Nabi Yunus terekam dalam QS Al-Anbiya ayat 87. Inilah lafal doanya:

لَا اِلَهَ اِلَّا اَنْتَ سُبْحَانَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ

Latin: Laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minazh zhaalimiin.

Artinya: "Tidak ada tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim."

Menurut teks terjemahan Al-Qur'an yang diterbitkan NU Online, konteks lengkap ayat 87 berbunyi: "(Ingatlah pula) Zun Nun (Yunus) ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya. Maka, dia berdoa dalam kegelapan yang berlapis-lapis, 'Tidak ada tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim.'" Adapun maksud "kegelapan yang berlapis-lapis" itu dijelaskan NU Online dalam artikelnya tentang kisah Nabi Yunus, yaitu kegelapan laut, kegelapan perut ikan, dan kegelapan malam. Jadi istilah "tiga kegelapan" yang sering kita dengar bukan sekadar gaya bahasa penceramah, melainkan penjelasan yang memang tercantum pada rujukan resmi.

Ayat berikutnya, Al-Anbiya ayat 88, langsung menegaskan hasilnya: "Kami lalu mengabulkan (doa)-nya dan Kami menyelamatkannya dari kedukaan. Demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang mukmin." Perhatikan penutup ayat ini. Janji penyelamatan itu tidak berhenti pada Nabi Yunus saja, tetapi berlaku umum untuk orang-orang beriman yang menempuh jalan doa yang sama.

Lafal Jawaban Allah pada Ayat 88

Karena ayat 88 adalah jawaban langsung atas doa tersebut, keduanya sebaiknya dibaca sepasang. Berikut lafal ayat 88 sebagaimana termuat pada teks Al-Qur'an yang diterbitkan NU Online:

فَاسْتَجَبْنَا لَهٗۙ وَنَجَّيْنٰهُ مِنَ الْغَمِّۗ وَكَذٰلِكَ نُنْجِى الْمُؤْمِنِيْنَ

Latin: Fastajabnaa lahuu wa najjainaahu minal ghamm, wa kadzaalika nunjil mu'miniin.

Artinya: "Kami lalu mengabulkan (doa)-nya dan Kami menyelamatkannya dari kedukaan. Demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang mukmin."

Perhatikan apa yang menurut ayat ini Allah angkat lebih dulu: bukan ikannya, bukan lautnya, melainkan "al-ghamm", yaitu kedukaan yang menghimpit. Sering kali memang bukan musibah itu sendiri yang paling menyiksa, melainkan kesesakan hati yang menyertainya.

Poin Penting: Doa Nabi Yunus tidak berisi permintaan eksplisit. Tidak ada kalimat "selamatkan aku" atau "keluarkan aku". Isinya murni pengagungan Allah dan pengakuan kesalahan, namun justru itulah yang Allah jawab dengan penyelamatan. Ini pelajaran adab berdoa yang sangat mendalam.

Kisah Nabi Yunus dalam Al-Qur'an

Nabi Yunus, yang juga dijuluki Dzun Nun (pemilik ikan besar), diutus kepada penduduk Nainawa. Ketika kaumnya berulang kali menolak dakwahnya, beliau meninggalkan mereka dalam keadaan marah tanpa menunggu izin dari Allah. Rangkaian peristiwa setelahnya diceritakan Al-Qur'an secara runtut dalam surat As-Saffat ayat 139 sampai 148.

Mengapa Nabi Yunus Pergi Tanpa Izin

NU Online, menukil Tafsir Ibnu Katsir, menerangkan bahwa Nabi Yunus bin Mata diutus kepada penduduk kota Nainawi, sebuah kota besar yang terletak di negeri Mausul. Beliau menyeru mereka menyembah Allah, tetapi mereka menolak dan tetap tenggelam dalam kekafiran. Nabi Yunus lalu pergi meninggalkan mereka dalam keadaan marah, sambil mengancam bahwa dalam tiga hari azab akan turun.

Di sinilah letak persoalannya. Kepergian itu terjadi tanpa izin Allah, dan Al-Qur'an sendiri menggambarkannya dengan kata "melarikan diri". NU Online mencatat satu hal yang jarang disinggung ketika kisah ini diceritakan ulang: Allah secara khusus melarang Rasulullah meniru sikap tersebut. Firman-Nya, "Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah" (QS Al-Qalam: 48). Artinya, pelajaran kesabaran dalam kisah ini bukan tambahan dari penceramah, melainkan koreksi yang Allah sampaikan sendiri di dalam Al-Qur'an.

Menurut hemat redaksi, yang Al-Qur'an soroti bukan bahwa beliau lelah menghadapi penolakan bertahun-tahun, melainkan bahwa beliau memutuskan sendiri kapan cukup, tanpa menunggu ketetapan Allah. Ketergesaan itulah yang dikoreksi.

Undian di Kapal dan Perintah Allah kepada Ikan

NU Online menuturkan bahwa kapal yang ditumpangi Nabi Yunus mendadak berhenti dan terombang-ambing, padahal kapal-kapal di kiri kanannya berlayar normal. Nabi Yunus sendirilah yang menyadari sebabnya dan mengusulkan undian. Yang sering luput diceritakan: undian itu dilakukan sampai tiga kali. Para awak kapal menolak melempar beliau setelah undian pertama, mengulanginya, dan hasilnya tetap sama, hingga ketiga kalinya. Mereka tahu betul siapa beliau di hadapan Allah, dan justru keengganan itu yang membuat ketetapan Allah terasa makin jelas.

Bagian yang paling menenangkan justru terjadi di dalam air. Menukil Tafsir Ibnu Katsir, NU Online meriwayatkan bahwa Allah memerintahkan ikan itu, "Janganlah kamu memakan secuil pun dari dagingnya, jangan pula mematahkan tulangnya, karena sesungguhnya Yunus itu bukanlah rezeki makananmu, melainkan perutmu Aku jadikan sebagai penjara buatnya." Ikan yang tampak seperti akhir hidup ternyata sudah diberi batasan sejak awal. Dari sudut pandang Nabi Yunus, itu bencana; dari sudut pandang Allah, itu ruang tunggu yang terjaga.

Di dasar laut itu pula, menurut riwayat yang dikutip NU Online, Nabi Yunus mendengar suara tasbih batu-batu kerikil. Pada saat itulah beliau mengucapkan doanya. Detail ini bukan sekadar hiasan cerita. Beliau menyaksikan bahwa seluruh makhluk, bahkan kerikil di dasar laut, sedang bertasbih, lalu menyadari posisinya sendiri sebagai satu-satunya yang tadi sempat lalai. Pengakuan "aku termasuk orang-orang zalim" lahir dari kesadaran itu.

Menurut teks terjemahan yang dimuat NU Online atas ayat-ayat tersebut, Nabi Yunus "berlari ke kapal yang penuh muatan, kemudian dia ikut diundi, maka dia termasuk orang-orang yang kalah (dalam undian). Dia kemudian ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela." Undian itu dilakukan karena kapal kelebihan beban sehingga seorang penumpang harus diturunkan, dan undian jatuh kepada Nabi Yunus.

Bagian paling menggetarkan justru datang setelahnya. Ayat 143-144 menyatakan: "Seandainya dia bukan golongan orang yang banyak bertasbih kepada Allah, niscaya dia akan tetap tinggal di perutnya (ikan) sampai hari Kebangkitan." Artinya, yang menyelamatkan Nabi Yunus bukan kebetulan, melainkan rekam jejak ibadahnya sebelum musibah datang, ditambah doa penuh penyesalan yang beliau panjatkan di dalam perut ikan.

Kisah ini berakhir indah. Allah melemparkan beliau ke daratan tandus dalam keadaan sakit, menumbuhkan tanaman sejenis labu untuk menaunginya, lalu mengutusnya kembali kepada seratus ribu orang atau lebih, dan kali ini mereka beriman. Kaum yang dulu menolak dakwah akhirnya menerima hidayah. Kisah lengkapnya bisa dibaca pada halaman kisah Nabi Yunus di kanal Kisah Teladan.

Makna Tiga Bagian Doa

NU Online, mengutip penjelasan Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, menguraikan bahwa doa Nabi Yunus terdiri dari tiga unsur yang sempurna:

  • Tauhid pada kalimat "laa ilaaha illaa anta" (tidak ada tuhan selain Engkau), yaitu menegaskan keesaan Allah dan bahwa hanya Dia yang berhak disembah serta dimintai pertolongan.
  • Tasbih pada kalimat "subhaanaka" (Maha Suci Engkau), yaitu menyucikan Allah dari segala kekurangan. Musibah yang menimpa bukan karena Allah zalim, melainkan karena kesalahan hamba.
  • Pengakuan diri pada kalimat "innii kuntu minazh zhaalimiin" (sesungguhnya aku termasuk orang yang zalim), yaitu bentuk kerendahan hati dan pengakuan atas kesalahan, semakna dengan istighfar.

Urutannya juga bermakna. Doa ini tidak dimulai dari diri sendiri, melainkan dari Allah dulu: mengesakan-Nya, menyucikan-Nya, baru kemudian menunduk mengakui kesalahan diri. Banyak dari kita terbiasa berdoa dengan urutan terbalik, langsung menyodorkan daftar permintaan tanpa pembukaan pengagungan. Struktur doa Nabi Yunus mengoreksi kebiasaan itu.

Dalam artikel yang sama, NU Online juga mengutip riwayat dari Imam Abu Nu'aim yang menunjukkan bahwa doa yang dipanjatkan terus-menerus memiliki peluang pengabulan lebih besar. Pesannya jelas: jangan berhenti pada satu kali baca lalu menyerah, karena kesinambungan doa adalah bagian dari adabnya.

Keutamaan dan Dalilnya

Keutamaan doa Nabi Yunus paling kuat justru datang dari Al-Qur'an sendiri. QS Al-Anbiya ayat 88 menyebut pengabulan doa ini lalu menutupnya dengan kalimat "Demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang mukmin", sebuah janji yang berlaku umum bagi orang beriman yang berdoa dengan cara serupa.

NU Online menganjurkan doa ini dibaca ketika seseorang sedang menghadapi kesulitan, kegelisahan, kesempitan, maupun lilitan utang. Dalam artikel tentang amalan malam Nisfu Sya'ban, NU Online mengutip riwayat dari Ibnu Abbas bahwa doa ini bila dibaca tiga kali dalam sehari akan menjadi sebab dikabulkannya permohonan bagi orang yang bersedih, cemas, atau berutang.

Hadits Riwayat At-Tirmidzi tentang Doa Dzun Nun

Dalil hadits yang paling sering dikaitkan dengan doa ini termuat dalam artikel NU Online berjudul "14 Golongan Hamba yang Doanya Mustajab". Di sana, orang yang berdoa dengan doa Dzun Nun (Nabi Yunus) ditempatkan pada urutan kesembilan di antara golongan yang doanya mustajab. Dasarnya, sebagaimana tertulis pada halaman tersebut, adalah hadits riwayat At-Tirmidzi dari Abu Sa'd ibn Abi Waqash. Rasulullah menyebutkan doa Dzun Nun ketika berdoa dalam perut ikan, lalu menegaskan bahwa "tidaklah seorang laki-laki Muslim berdoa sesuatu dengan doa tersebut kecuali Allah akan memperkenannya".

Satu catatan transparansi dari redaksi. Halaman NU Online tersebut menyebutkan jalur periwayatannya (At-Tirmidzi, dari Abu Sa'd ibn Abi Waqash) tanpa mencantumkan nomor riwayat. Kami memilih menyebutkan atribusi persis sebagaimana tertulis di sana, dan tidak menambahkan nomor hadits yang tidak kami verifikasi sendiri ke kitab sumbernya. Pembaca yang ingin menelusuri sanadnya lebih jauh sebaiknya merujuk langsung ke kitab Sunan At-Tirmidzi atau bertanya kepada ustadz yang berkompeten melalui kanal tanya ustadz.

Catatan Penting: Kata "diperkenankan" dalam riwayat di atas jangan dipahami sebagai jaminan bahwa setiap permintaan akan terwujud persis seperti yang kita bayangkan, dalam bentuk yang kita mau, dan pada waktu yang kita tentukan. Para ulama menjelaskan pengabulan doa bisa berupa terwujudnya permintaan, ditundanya untuk waktu yang lebih tepat, atau diganti dengan yang lebih baik. Doa Nabi Yunus adalah ikhtiar seorang hamba untuk kembali kepada Allah, bukan transaksi dengan hasil yang bisa dipesan. Nabi Yunus sendiri tidak langsung keluar dari perut ikan begitu selesai berdoa; beliau masih melewati proses dimuntahkan ke daratan tandus dalam keadaan sakit.

Doa ini juga termasuk amalan yang dianjurkan dibaca pada malam Nisfu Sya'ban. NU Online menukil hadits riwayat Ibnu Hibban bahwa pada malam Nisfu Sya'ban Allah memperhatikan makhluk-Nya dan mengampuni seluruhnya kecuali orang kafir dan orang yang bermusuhan. Sebagian ulama, seperti dikutip NU Online dari kitab Kanzun Najah was Surur karya Syekh Abdul Hamid Al-Makki, bahkan menganjurkan membacanya dalam jumlah banyak pada malam tersebut sebagai ikhtiar perlindungan setahun ke depan. Jumlah bilangan seperti ini sifatnya anjuran ulama, bukan kewajiban syariat, jadi tidak perlu dijadikan beban.

Ringkasan: Dalil keutamaan doa Nabi Yunus bertingkat: (1) QS Al-Anbiya 87-88 sebagai dalil utama pengabulan, (2) QS As-Saffat 143-144 tentang peran tasbih dalam penyelamatan, (3) riwayat yang dinukil NU Online tentang anjuran membacanya saat sedih, cemas, berutang, serta pada malam Nisfu Sya'ban.

Cara Mengamalkan Sehari-hari

Doa Nabi Yunus sangat mudah diamalkan karena pendek dan tidak terikat waktu tertentu. Berikut langkah praktis yang bisa diikuti:

  1. Hafalkan lafalnya dengan benar. Perhatikan terutama kata "zhaalimiin" dengan huruf zha yang dibaca tebal. Kalau ragu, dengarkan bacaan qari melalui aplikasi Al-Qur'an resmi, lalu cocokkan dengan teks pada halaman doa Nabi Yunus di kanal Doa Harian.
  2. Pahami artinya sebelum rutin membacanya. Doa ini berisi pengakuan "aku termasuk orang zalim". Membacanya sambil menyadari kesalahan sendiri jauh lebih menghadirkan hati daripada sekadar melafalkan.
  3. Pilih momen yang konsisten. Banyak muslim Indonesia membiasakannya setelah sholat fardhu, digabung dengan rangkaian doa setelah sholat, atau pada sepertiga malam terakhir setelah sholat tahajud ketika suasana paling hening.
  4. Baca saat kesulitan datang. Ketika dada terasa sempit, masalah pekerjaan menumpuk, atau utang terasa mencekik, berhentilah sejenak, tarik napas, lalu baca doa ini perlahan dengan penghayatan.
  5. Ulangi dan jangan buru-buru menyerah. Sebagaimana dinukil NU Online dari Imam Abu Nu'aim, doa yang terus-menerus memiliki peluang pengabulan lebih besar. Tidak ada batas jumlah; tiga kali, tujuh kali, atau lebih, semuanya boleh.
  6. Iringi dengan ikhtiar nyata. Nabi Yunus tetap menjalani proses: terlempar ke laut, ditelan ikan, terdampar, sakit, lalu kembali berdakwah. Doa berjalan bersama usaha, bukan menggantikannya.

Bayangkan skenario yang akrab di keseharian kita: seorang perantau di Jakarta yang gajinya habis untuk cicilan, pulang kerja larut malam naik KRL, lalu duduk termenung memikirkan tagihan yang jatuh tempo. Pada titik seperti itulah doa Nabi Yunus paling relevan. Bukan karena lafalnya ajaib, melainkan karena isinya memaksa kita jujur: mengakui ada andil kesalahan sendiri, menyucikan Allah dari prasangka buruk, lalu menyerahkan urusan kepada-Nya sambil terus berikhtiar.

Adab dan Waktu Mengamalkannya

Perlu disampaikan apa adanya: sumber NU Online yang kami rujuk tidak mematok jam tertentu, hitungan wajib, atau tata cara khusus sebagai syarat sahnya doa ini. Yang mereka sebutkan adalah keadaannya, bukan waktunya, yaitu ketika seseorang sedang bersedih, cemas, terhimpit kesempitan, atau dililit utang. Satu-satunya waktu khusus yang secara eksplisit disebut dalam artikel NU Online adalah malam Nisfu Sya'ban, yang pembahasannya bisa dilanjutkan ke halaman niat puasa Nisfu Sya'ban. Selebihnya, doa ini bebas dibaca kapan saja. Kalau ada tulisan yang menyebut jam khusus atau bilangan yang "harus" dipenuhi, mintalah rujukannya sebelum diikuti.

Meski begitu, adab umum berdoa tetap berlaku dan itu ada dasarnya. Menghadap kiblat, dalam keadaan suci, mengawali dengan pujian kepada Allah dan selawat, lalu menghadirkan hati. Doa Nabi Yunus sebetulnya sudah mengajarkan adab itu di dalam susunannya sendiri: mengesakan Allah, menyucikan-Nya, baru mengakui kesalahan. Karena inti doa ini adalah pengakuan dosa, wajar bila NU Online menempatkannya sederet dengan lafal-lafal pertobatan lain seperti doa Nabi Adam dan sayyidul istighfar. Bagi yang ingin menindaklanjuti pengakuan itu dengan amalan, sholat taubat adalah kelanjutan yang paling natural.

Satu hal yang perlu diluruskan sejak awal: doa ini bukan alat untuk memaksa Allah mempercepat keinginan kita. Membacanya sambil menghitung hari dan kesal karena "belum terkabul juga" justru bertentangan dengan isi doanya sendiri, yang intinya adalah menyerah dan mengakui salah, bukan menagih. Kalau kesulitan yang Anda hadapi menyangkut kesehatan, keuangan, atau hukum, doa berjalan beriringan dengan ikhtiar yang semestinya: berobat ke dokter, menyusun ulang cicilan, atau berkonsultasi kepada yang ahli. Doa menguatkan ikhtiar, tidak menggantikannya.

Pro Tip: Gabungkan doa Nabi Yunus dengan rutinitas dzikir pagi dan petang. Selipkan setelah dzikir petang selesai, saat hati sedang tenang. Kebiasaan kecil yang menempel pada rutinitas lama jauh lebih awet daripada target besar yang berdiri sendiri.

Kesalahan Umum yang Perlu Dihindari

Karena sangat populer, doa Nabi Yunus juga rawan dipahami keliru. Beberapa kesalahan yang sering redaksi temui:

  • Menganggap bilangan tertentu sebagai syarat mutlak. Anjuran membaca dalam jumlah tertentu berasal dari ijtihad ulama sebagai amalan, bukan ketentuan wajib. Membaca sekali dengan hati hadir lebih baik daripada ribuan kali sambil melamun.
  • Melafalkan tanpa memahami arti. Inti doa ini adalah pengakuan dosa. Tanpa kesadaran itu, yang tersisa hanya hafalan lisan.
  • Menjadikannya jimat pengganti ikhtiar. Doa ini bukan mantra pelunas utang otomatis. Utang tetap harus dicicil, masalah tetap harus dihadapi, dan doa menjadi kekuatan batinnya.
  • Berputus asa ketika jawaban belum terlihat. Nabi Yunus sendiri melewati proses panjang sebelum pertolongan datang. Menyerah setelah beberapa hari berdoa justru bertentangan dengan semangat kisahnya.
  • Salah menyalin teks Arab dari sumber tidak jelas. Ambil teks dari mushaf resmi seperti Qur'an Kemenag atau situs rujukan seperti NU Online agar harakat dan hurufnya tepat.

Pelajaran dari Nabi Yunus

Kisah Nabi Yunus mengajarkan beberapa hikmah penting yang tetap relevan untuk kehidupan modern:

  • Setiap kesulitan pasti ada jalan keluar bila kita kembali kepada Allah. Bahkan dari tempat segelap perut ikan di dasar laut, doa tetap sampai kepada-Nya.
  • Doa yang tulus diawali dengan mengagungkan Allah, bukan sekadar meminta. Struktur tauhid, tasbih, lalu pengakuan diri adalah urutan adab yang patut ditiru dalam semua doa kita.
  • Mengakui kesalahan adalah pintu menuju ampunan dan pertolongan. Gengsi mengakui salah sering menjadi penghalang terbesar, padahal justru pengakuan itulah yang Allah cintai.
  • Amal baik di masa lapang menjadi penolong di masa sempit. QS As-Saffat 143-144 menegaskan bahwa kebiasaan bertasbih Nabi Yunus sebelum musibah menjadi sebab keselamatannya. Menabung amal sekarang berarti menyiapkan penolong untuk masa sulit nanti.
  • Kesabaran dalam berdakwah dan menunggu ketetapan Allah sangat dihargai. Kaum yang dulu menolak akhirnya beriman, seratus ribu orang atau lebih, setelah Nabi Yunus kembali dengan hati yang telah ditempa.

Tobat Kaum Nabi Yunus, Satu-satunya yang Diabadikan Al-Qur'an

Ada bagian kisah ini yang sering terlewat karena perhatian kita habis di perut ikan, padahal justru bagian inilah yang Allah abadikan sebagai keistimewaan. NU Online menceritakan bahwa setelah Nabi Yunus pergi, kaumnya melihat tanda-tanda azab benar-benar akan turun. Mereka pun bertobat dan kembali kepada perintah Allah, menyesali perlakuan mereka terhadap nabi yang diutus di tengah mereka. Bentuk tobatnya digambarkan dengan sangat menyentuh: mereka keluar ke padang sahara, memisahkan anak-anak dari ibunya, baik manusia maupun binatang ternak, sehingga terdengar gemuruh rintihan dan tangis dari segala penjuru. Berkat doa dan usaha itu, Allah mengurungkan azab yang sudah di ambang pintu.

Peristiwa itu lalu diabadikan dalam QS Yunus ayat 98, yang menurut terjemahan pada halaman NU Online berbunyi, "Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu." Perhatikan kata "selain kaum Yunus". Dalam Al-Qur'an, merekalah satu-satunya kaum yang tobatnya diterima setelah azab tampak di depan mata.

Ada dua doa yang berjalan bersamaan dalam kisah ini, dan keduanya dikabulkan. Doa Nabi Yunus di dasar laut, dan doa kaumnya di padang sahara. Sang nabi mengira dakwahnya gagal total, padahal pada saat yang sama kaum yang beliau tinggalkan sedang menangis bertobat. Pelajarannya cukup keras untuk kita yang gampang menyerah: kita tidak pernah benar-benar tahu di titik mana usaha kita sedang membuahkan hasil. Nabi Yunus pergi tepat ketika dakwahnya hampir berhasil.

Penutup kisahnya pun berisi teguran yang menohok. NU Online meriwayatkan bahwa ketika pohon labu yang menaungi Nabi Yunus mengering dan beliau menangisinya, Allah menegur, "Engkau menangis karena pohon itu, bukan menangisi seratus ribu orang yang hendak engkau binasakan." NU Online menyebut kisah ini disarikan dari hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf, jilid 11, halaman 541, nomor hadits 1195, dari Abdullah ibn Mas'ud, dalam bab "Kitab Fadha'il Yunus". Teguran itu mengajarkan proporsi: kita mudah bersedih atas kehilangan kecil yang menimpa diri sendiri, dan lupa pada persoalan besar yang menimpa orang banyak.

Menurut hemat redaksi, di antara semua doa dalam Al-Qur'an, doa Nabi Yunus adalah salah satu yang paling cocok untuk generasi yang hidup dengan tekanan finansial dan kecemasan seperti sekarang. Ia pendek sehingga mudah diamalkan di sela kesibukan, dan isinya melatih kejujuran kepada diri sendiri, sesuatu yang makin langka di era pencitraan.

Baca juga: Kumpulan kisah teladan para nabi dan orang saleh untuk mengambil hikmah, doa sholat tahajud yang cocok dipanjatkan pada sepertiga malam terakhir, serta cek jadwal sholat kota Anda agar momen doa selalu tepat waktu.

Catatan redaksi. Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi Ngajia dengan merujuk sumber di atas dan ditinjau sebelum terbit. Untuk pertanyaan fikih yang bersifat khusus dan berkaitan dengan kondisi pribadi Anda, silakan bertanya melalui Tanya Ustadz atau merujuk langsung kepada ustadz dan lembaga fatwa resmi.

FAQ

Pertanyaan seputar doa nabi yunus

TApa bacaan doa Nabi Yunus?

Bacaannya adalah 'Laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minazh zhaalimiin', yang artinya 'Tidak ada tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.'

TDi surat dan ayat berapa doa Nabi Yunus disebutkan?

Doa Nabi Yunus terekam dalam Al-Qur'an surat Al-Anbiya ayat 87, dan kisah penyelamatannya dilanjutkan pada ayat 88. Rangkaian kisahnya juga diceritakan dalam surat As-Saffat ayat 139-148.

TKapan doa Nabi Yunus dianjurkan dibaca?

Doa ini dianjurkan dibaca ketika seseorang menghadapi kesulitan, kegelisahan, kesempitan, atau lilitan utang, sebagai permohonan jalan keluar kepada Allah. Doa ini juga termasuk amalan yang dianjurkan pada malam Nisfu Sya'ban.

TMengapa doa Nabi Yunus disebut doa yang sempurna?

Karena mengandung tiga unsur sekaligus: tauhid (menegaskan keesaan Allah), tasbih (menyucikan Allah), dan pengakuan diri atas kesalahan sebagai bentuk kerendahan hati.

TSiapa nama lain Nabi Yunus?

Nabi Yunus dijuluki Dzun Nun, yang berarti pemilik ikan besar, karena kisahnya ditelan seekor ikan besar saat berada di laut.

TApa maksud tiga kegelapan dalam kisah Nabi Yunus?

Menurut penjelasan NU Online atas QS Al-Anbiya ayat 87, kegelapan yang berlapis-lapis itu adalah kegelapan laut, kegelapan perut ikan, dan kegelapan malam.

TBerapa kali doa Nabi Yunus sebaiknya dibaca?

Tidak ada batas jumlah yang diwajibkan syariat. NU Online menukil riwayat dari Ibnu Abbas tentang anjuran membacanya tiga kali sehari bagi orang yang bersedih, cemas, atau berutang, namun membaca sekali dengan hati yang hadir tetap bernilai.

Artikel Terkait

Bacaan lain seputar kisah teladan