
Doa pembuka rezeki adalah doa yang dipanjatkan untuk memohon kelapangan rezeki kepada Allah. Yang paling kuat sandarannya adalah doa yang memang terekam dalam Al-Quran, seperti doa Nabi Musa rabbi inni lima anzalta ilayya min khairin faqir (QS Al-Qashash: 24), istighfar yang diajarkan Nabi Nuh kepada kaumnya (QS Nuh: 10-12), serta doa Nabi Isa yang ditutup dengan pengakuan bahwa Allah sebaik-baik pemberi rezeki (QS Al-Maidah: 114). Yang perlu diletakkan lebih dulu adalah kedudukannya. Dalam penjelasan NU Online, amalan pembuka rezeki bekerja dengan cara menyeimbangkan ikhtiar batin, yaitu bertakwa, bersabar, dan berzikir, dengan ikhtiar lahir berupa bekerja dengan rajin. Doa bukan mantra yang menggantikan kerja, dan bukan pula transaksi yang memaksa Allah mengabulkan permintaan pada waktu yang kita tentukan sendiri. Artikel ini menyajikan bacaannya lengkap dengan arti, adab dan syaratnya, serta beberapa salah paham yang justru paling sering melekat pada topik ini.
Bacaan Doa Pembuka Rezeki dari Al-Quran
Ada banyak redaksi doa yang beredar dengan label "pembuka rezeki". Supaya aman, redaksi berikut sengaja dibatasi pada doa yang benar-benar termaktub dalam Al-Quran dan lafalnya dikutip dari Quran NU Online.
Doa Nabi Musa (QS Al-Qashash: 24)
Doa ini dipanjatkan Nabi Musa setelah beliau menolong dua perempuan mengambil air, lalu berteduh dalam keadaan lapar dan tidak punya apa-apa. Inilah doa yang paling sering dikaitkan dengan permohonan rezeki:
رَبِّ اِنِّيْ لِمَآ اَنْزَلْتَ اِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيْرٌ
Latin: Rabbi inni lima anzalta ilayya min khairin faqir.
Artinya: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan (rezeki) yang Engkau turunkan kepadaku." (QS Al-Qashash: 24)
Ada satu detail yang layak diperhatikan, dan sering terlewat ketika doa ini dipotong dari konteksnya. Nabi Musa memanjatkan doa itu sesudah beliau bekerja, bukan sebagai ganti bekerja. Beliau menolong dulu, mengangkat air dulu, baru berdoa. Dalam Tafsir Tahlili yang dimuat Quran NU Online dijelaskan bahwa Musa menolong kedua perempuan itu walaupun saat itu dia sangat lapar, lalu berdoa memohon "sesuatu kebaikan berupa makanan atau rezeki lainnya, walau sedikit". Perhatikan pula isi permintaannya: beliau tidak menyebut nominal, tidak menyebut jenis, tidak menyebut tenggat. Beliau hanya mengakui diri sebagai faqir, yaitu pihak yang membutuhkan, lalu menyerahkan bentuk dan takarannya kepada Allah.
Doa Nabi Isa (QS Al-Maidah: 114)
Doa Nabi Isa ketika memohon hidangan dari langit ditutup dengan kalimat yang sangat pas dijadikan doa rezeki, yaitu pengakuan bahwa hanya Allah sebaik-baik pemberi rezeki:
اللّٰهُمَّ رَبَّنَآ اَنْزِلْ عَلَيْنَا مَاۤىِٕدَةً مِّنَ السَّمَاۤءِ تَكُوْنُ لَنَا عِيْدًا لِّاَوَّلِنَا وَاٰخِرِنَا وَاٰيَةً مِّنْكَ وَارْزُقْنَا وَاَنْتَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ
Latin: Allahumma rabbana anzil 'alaina ma'idatam minas-sama'i takunu lana 'idal li'awwalina wa akhirina wa ayatam minka warzuqna wa anta khairur-raziqin.
Artinya: "Ya Allah Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang-orang yang sekarang bersama kami maupun yang datang setelah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan-Mu. Berilah kami rezeki. Engkaulah sebaik-baik pemberi rezeki." (QS Al-Maidah: 114)
Bagian penutupnya, warzuqna wa anta khairur-raziqin, bisa dibaca tersendiri sebagai permohonan rezeki yang ringkas dan mudah dihafal.
Perintah Meminta Rezeki kepada Allah (QS Al-'Ankabut: 17)
Ayat berikut dikutip NU Online ketika menjelaskan amalan pembuka rezeki, dan menariknya ayat ini menggabungkan dua hal sekaligus: mencari dan menyembah.
فَابْتَغُوْا عِنْدَ اللّٰهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوْهُ وَاشْكُرُوْا لَهٗۗ اِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ
Latin: Fabtaghu 'indallahir-rizqa wa'buduhu wasykuru lah, ilaihi turja'un.
Artinya: "Maka, mintalah rezeki dari sisi Allah, sembahlah Dia, dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya kamu akan dikembalikan." (QS Al-'Ankabut: 17)
Kata fabtaghu berasal dari akar yang bermakna mencari dengan sungguh-sungguh, bukan menunggu. Menurut penjelasan Imam al-Qusyairi dalam Lathaif Al-Isyarat yang dinukil NU Online, pada ayat tersebut perintah mencari rezeki justru didahulukan sebelum perintah beribadah, karena seseorang tidak dapat menjalankan ibadah dengan baik kecuali setelah tercukupi urusannya. Dengan rezeki seseorang memperoleh kekuatan, dan dengan kekuatan itu ia dapat menunaikan ibadah.
Istighfar, Pembuka Rezeki yang Diajarkan Nabi Nuh
Kalau ada satu amalan yang paling konsisten disebut sumber sebagai pembuka rezeki, itu adalah istighfar. Dasarnya adalah seruan Nabi Nuh kepada kaumnya yang diabadikan dalam Al-Quran:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ اِنَّهٗ كَانَ غَفَّارًاۙ يُّرْسِلِ السَّمَاۤءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًاۙ وَّيُمْدِدْكُمْ بِاَمْوَالٍ وَّبَنِيْنَ وَيَجْعَلْ لَّكُمْ جَنّٰتٍ وَّيَجْعَلْ لَّكُمْ اَنْهٰرًاۗ
Latin: Fa qultustaghfiru rabbakum innahu kana ghaffara. Yursilis-sama'a 'alaikum midrara. Wa yumdidkum bi'amwaliw wa banina wa yaj'al lakum jannatiw wa yaj'al lakum an-hara.
Artinya: "Lalu, aku berkata (kepada mereka), 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. (Jika kamu memohon ampun,) niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu.'" (QS Nuh: 10-12)
Syekh Nawawi al-Jawi dalam Qatru al-Ghais fi Syarh Masail Abi Laits, sebagaimana dikutip NU Online, menyebut tiga sebab keluasan rezeki, yaitu memperbanyak shalat, shalawat, dan istighfar. Ayat Surat Nuh di atas dijadikan dasar untuk yang ketiga.
Menurut hemat redaksi, logika istighfar sebagai pembuka rezeki sebenarnya masuk akal bahkan tanpa harus dibawa ke ranah gaib. Orang yang rutin beristighfar sedang rutin memeriksa dirinya sendiri. Ia jadi sadar mana penghasilan yang ia peroleh dengan cara yang tidak benar, mana janji yang ia langgar kepada pelanggan, mana amanah yang ia sepelekan di tempat kerja. Kesadaran itu memperbaiki cara ia bekerja, dan cara kerja yang lebih bersih memang cenderung membuka lebih banyak pintu. Istighfar mengubah pelakunya lebih dulu, baru keadaannya. Bacaan istighfar yang lebih panjang beserta keutamaannya bisa Anda pelajari pada pembahasan sayyidul istighfar.
Doa Berjalan Bersama Kerja, Bukan Menggantikannya
Inilah bagian yang paling sering dipotong ketika topik ini beredar di media sosial, padahal sumbernya justru sangat tegas. NU Online mengutip perkataan Sahabat Umar bin Khattab:
وَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَا يَقْعُدُ أَحَدُكُمْ عَنْ طَلَبِ الرِّزْقِ يَقُولُ اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي فَقَدْ عَلِمْتُمْ أَنَّ السَّمَاءَ لَا تُمْطِرُ ذَهَبًا وَلَا فِضَّةً
"Umar bin Khattab RA berkata: 'Janganlah salah satu di antara kalian duduk diam tidak berusaha mencari rezeki sambil berdoa, "Ya Allah, berilah aku rezeki." Karena kalian sungguh telah mengetahui bahwa langit tidak akan menurunkan hujan emas dan perak.'"
Kalimat itu praktis menutup pintu bagi pemahaman bahwa doa pembuka rezeki adalah jalan pintas. Umar tidak melarang berdoa. Yang beliau larang adalah duduk diam sambil berdoa. NU Online menutup pembahasan amalan pembuka rezeki dengan rumusan yang senada: amalan yang bisa membuka rezeki adalah menyeimbangkan ikhtiar batin dengan cara bertakwa kepada Allah, bersabar, dan memperbanyak zikir, dan itu semua diiringi dengan ikhtiar lahir melalui bekerja dengan rajin. Sebab, sebagaimana ditulis di sana, tidak mungkin emas dan harta benda lainnya turun dari langit begitu saja.
Tawakal bukan berarti berhenti berusaha
Ganjalan yang wajar muncul: bukankah kita diperintahkan bertawakal? Imam Abu Qasim al-Qusyairi dalam Risalah al-Qusyairiyah, sebagaimana dinukil NU Online, menjawab persis kekhawatiran ini. Beliau menegaskan bahwa tawakal bertempat di dalam hati, dan usaha lahiriah tidaklah merusak sifat tawakal dalam hati selama sang hamba meyakini bahwa takdir datang dari sisi Allah. Artinya, bekerja keras dan bertawakal bukan dua hal yang saling meniadakan. Yang satu di tangan, yang satu di hati.
Al-Qusyairi juga menukil perkataan Sahal bin Abdullah:
التوكل حال النبي والكسب سنته فمن بقي على حاله فلا يتركن سنته
"Sifat tawakal adalah keadaan Nabi Muhammad dan bekerja adalah jalan yang ditempuh Nabi Muhammad. Barang siapa yang meneladani keadaan Nabi (dengan menetapi sifat tawakal) maka jangan sampai ia meninggalkan sunah Nabi (dengan tetap bekerja)."
NU Online mencatat konteks historisnya, dan konteks ini terasa relevan sampai sekarang. Pada zaman al-Qusyairi, sebagian umat Islam menjadi apatis terhadap harta lalu meninggalkan kewajiban bekerja dengan dalih tawakal. Akibatnya kelompok sufi terlanjur dicap kaum pemalas. Karena itu para ulama tasawuf justru mengajarkan pengikutnya giat bekerja, sebab orang yang meninggalkan kewajiban bekerja pada hakikatnya sedang menganiaya dirinya sendiri dan orang-orang yang menjadi tanggungannya.
Perdebatan Imam Syafi'i dan Imam Malik
NU Online memuat kisah menarik tentang perbedaan pandangan dua imam besar soal rezeki. Imam Malik berpendapat rezeki datang tanpa harus dikejar, cukup bertawakal, dan beliau membacakan hadits bahwa andai kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung, yang pergi pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore dalam keadaan kenyang. Imam Syafi'i menyanggah gurunya dengan pertanyaan yang jenaka sekaligus tajam: andai seekor burung tidak keluar dari sarangnya, bagaimana mungkin ia mendapatkan rezeki?
Suatu hari Imam Syafi'i ikut membantu rombongan yang memanen anggur dan memperoleh imbalan beberapa ikat anggur. Beliau membawanya kepada sang guru sambil berkata bahwa andai ia tidak keluar rumah dan tidak bekerja, anggur itu tidak akan sampai ke tangannya. Imam Malik tersenyum, mencicipi anggur itu, lalu menjawab bahwa seharian itu beliau tidak keluar rumah dan sempat membayangkan nikmatnya menyantap anggur di cuaca panas, dan ternyata anggurnya datang dibawakan muridnya. Keduanya lalu tertawa bersama. NU Online menyimpulkan bahwa perbedaan pendapat dua tokoh besar itu sesungguhnya tidak ada yang salah, karena Allah menyiapkan banyak pintu rezeki dan kita kerap hanya melihat pintu usaha saja.
Pintu-Pintu Rezeki Lain yang Disebut Sumber
Selain doa dan kerja, NU Online merinci sejumlah pintu rezeki yang disebut Al-Quran dan hadits. Beberapa yang relevan untuk diamalkan sehari-hari:
- Sedekah. Bersandar pada QS Al-Baqarah: 245 tentang pinjaman yang baik kepada Allah yang akan dilipatgandakan pembayarannya. Bila Anda ingin menghitung kewajiban maupun rencana berbagi, halaman kalkulator zakat bisa membantu, dan pembahasan zakat penghasilan menjelaskan hitungannya untuk pekerja bergaji.
- Istighfar. Sebagaimana QS Nuh: 10-12 di atas. NU Online menyebut salah satu penghalang rezeki adalah dosa, sehingga memperbanyak istighfar berarti membuka kembali jalan yang tertutup.
- Silaturahmi. Rasulullah bersabda bahwa siapa pun yang ingin dilapangkan rezekinya dan ditangguhkan ajalnya hendaklah ia bersilaturahim (HR Al-Bukhari). Ini pintu yang sangat konkret: relasi yang terjaga memang kerap menjadi jalan datangnya pekerjaan dan peluang.
- Bersyukur. Bersandar pada QS Ibrahim: 7, bahwa jika kamu bersyukur niscaya Allah akan menambah nikmat kepadamu.
- Takwa dan tawakal. Bersandar pada QS Ath-Thalaq: 2-3, yang menyebut bahwa siapa bertakwa kepada Allah akan diberi jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka. Lafal lengkap ayat ini beserta pembahasannya sudah kami muat tersendiri pada artikel doa seribu dinar, sehingga tidak diulang di sini.
Menariknya, NU Online sendiri memberi rambu pada pintu-pintu ini. Ketika membahas menikah sebagai pintu rezeki, misalnya, ditegaskan bahwa keterangan tersebut tidak selayaknya dijadikan pembenaran untuk bermalas-malasan sehingga istri dan anak melarat karena berkeyakinan rezeki akan datang sendiri. Usaha manusiawi tetap harus dilakukan. Rambu yang sama berlaku untuk seluruh pintu di atas, termasuk untuk doa.
Sebagian pembaca juga mengaitkan rezeki dengan amalan membaca surat tertentu. Pembahasan tersendiri mengenai hal itu bisa dibaca pada artikel doa setelah membaca surat Al-Waqiah. Untuk permohonan yang bersifat menyeluruh, mencakup kebaikan dunia dan akhirat sekaligus, banyak ulama menganjurkan doa sapu jagat yang ringkas dan mudah dihafal.
Rezeki Tidak Selalu Berupa Uang
Ada asumsi diam-diam di balik pencarian doa pembuka rezeki, yaitu bahwa rezeki sama dengan uang. Sumber-sumber NU justru mengoreksi asumsi ini sejak awal. Syekh Nawawi al-Jawi dalam Qatru al-Ghais, sebagaimana dikutip NU Online, menegaskan bahwa rezeki tidak terbatas pada makanan dan minuman, melainkan segala sesuatu yang bermanfaat bagi makhluk bernyawa, dan bahwa rezeki yang paling utama adalah at-taufiq, yaitu pertolongan Allah untuk dapat taat kepada-Nya.
Syekh Nawawi juga membagi rezeki menjadi dua, yaitu rezeki lahir berupa kekuatan dan makanan untuk badan, serta rezeki batin berupa makrifat dan tersingkapnya tabir hati. NU Online bahkan menyebut bahwa memahami rezeki sebatas harta, makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal adalah pemahaman yang membahayakan keimanan seseorang kepada Allah yang Maha Pemberi rezeki.
Dalam khutbah Jumat bertajuk rezeki yang sudah ditakar, NU Online menurunkan pemahaman ini ke bahasa sehari-hari yang mudah dirasakan: mungkin orang lain diberi kelebihan harta, tetapi kita diberi kesehatan; ada yang diberi jabatan, tetapi kita diberi keluarga yang harmonis; ada yang diberi popularitas, tetapi kita diberi ketenangan hati. Semuanya adalah rezeki, hanya bentuknya yang berbeda-beda.
Konsekuensinya penting untuk cara kita berdoa. Kalau rezeki hanya dimaknai uang, maka doa yang belum berbuah tambahan penghasilan akan terasa seperti doa yang ditolak, padahal boleh jadi pada saat yang sama kita sedang diberi kesehatan, dijauhkan dari musibah, atau diberi kemampuan menahan diri dari penghasilan yang tidak halal. Memperluas makna rezeki bukan penghiburan untuk orang yang gagal, melainkan cara membaca pemberian Allah dengan lebih jujur.
Kesalahan Pemahaman soal Doa Pembuka Rezeki
Topik ini termasuk yang paling banyak ditumpangi konten menyesatkan. Beberapa hal yang perlu diluruskan:
- Menganggap doa sebagai pengganti usaha. Ini yang secara langsung ditolak Umar bin Khattab pada kutipan di atas. Berdoa sambil duduk diam bukanlah tawakal, dan langit memang tidak menurunkan hujan emas dan perak.
- Menganggap doa sebagai transaksi yang pasti berbuah. Doa adalah permohonan seorang hamba, bukan alat pemaksa. Tidak ada satu pun sumber yang kami rujuk menjanjikan hasil dalam jumlah dan waktu tertentu. Konten yang menjamin "pasti kaya" atau "rezeki mengalir dalam tujuh hari" sedang menjual sesuatu yang tidak pernah dijanjikan agama.
- Mencampur doa dengan amalan penglaris, jimat, atau pesugihan. Doa dalam Islam ditujukan langsung kepada Allah. Menggantungkan rezeki pada benda, mantra, perantara gaib, atau ritual yang tidak ada dasarnya justru merusak inti tauhid yang menjadi ruh doa itu sendiri. Perhatikan bahwa QS Al-'Ankabut: 17 yang dikutip di atas justru diturunkan dalam konteks teguran kepada mereka yang mencari rezeki pada sesembahan selain Allah, padahal sesembahan itu tidak mampu memberi rezeki apa pun.
- Melupakan syarat halal. Doa memohon dibukakan rezeki tidak masuk akal bila dibarengi cara mencari yang menzalimi orang lain, menipu pembeli, atau memakan hak yang bukan miliknya. NU Online menyebut dosa justru termasuk penghalang rezeki, sehingga membuka rezeki dengan cara berdosa adalah kontradiksi.
- Mengukur terkabulnya doa hanya dari saldo. Sebagaimana dijelaskan pada bagian sebelumnya, rezeki mencakup kesehatan, ketenangan, keluarga, ilmu, dan taufik untuk taat. Menyempitkan ukuran hanya pada uang membuat kita gagal melihat sebagian besar pemberian yang sedang kita terima.
- Berhenti berdoa karena merasa belum dikabulkan. Ini kebalikan dari poin pertama, dan sama kelirunya. Nabi Musa berdoa dalam keadaan lapar dan tidak punya apa-apa, dan doa itu diabadikan justru karena ketulusan pengakuannya sebagai hamba yang membutuhkan, bukan karena kecepatan jawabannya.
Bila hidup terasa sempit, urutan yang diajarkan sumber-sumber di atas cukup sederhana: perbaiki cara mencari (halal dan sungguh-sungguh), perbaiki hubungan dengan Allah (takwa, istighfar, shalat), perbaiki hubungan dengan sesama (silaturahmi dan sedekah), lalu berdoa dan bertawakal. Amalan zikir rutin seperti dzikir pagi dan petang bisa menjadi wadah yang tenang untuk memanjatkan doa-doa di atas setiap hari. Adapun untuk persoalan pribadi yang spesifik, misalnya kondisi utang yang menekan atau keraguan atas kehalalan suatu penghasilan, sebaiknya ditanyakan kepada ustadz setempat atau melalui halaman Tanya Ustadz, karena jawabannya bergantung pada detail yang tidak bisa diseragamkan dalam satu artikel.
Sumber Rujukan
- Quran NU Online - Surat Al-Qashash Ayat 24 (doa Nabi Musa, Arab, latin, terjemah, tafsir)
- Quran NU Online - Surat Nuh Ayat 10 (istighfar)
- Quran NU Online - Surat Al-Ma'idah Ayat 114 (doa Nabi Isa)
- Quran NU Online - Surat Al-'Ankabut Ayat 17 (perintah meminta rezeki kepada Allah)
- NU Online - Amalan Pembuka Pintu Rezeki agar Hidup Berkecukupan (athar Umar bin Khattab, ikhtiar batin dan lahir)
- NU Online - Sebagian Ikhtiar Memperluas Rezeki: Shalat, Shalawat, Istighfar (Syekh Nawawi, rezeki lahir dan batin)
- NU Online - Imam Syafi'i vs Imam Malik: Rezeki Dicari atau Datang Sendiri? (pintu-pintu rezeki)
- NU Online - Pengertian Tawakal menurut Imam al-Qusyairi
- NU Online - Khutbah Jumat: Rezeki Sudah Ditakar, Tak Akan Tertukar
Catatan redaksi. Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi Ngajia dengan merujuk sumber di atas dan ditinjau sebelum terbit. Untuk pertanyaan fikih yang bersifat khusus dan berkaitan dengan kondisi pribadi Anda, silakan bertanya melalui Tanya Ustadz atau merujuk langsung kepada ustadz dan lembaga fatwa resmi.


